Social Icons

Pages

Featured Posts

Jumat, 07 Juli 2017

Why are the Mathematics National Examination Items Difficult and What Is Teachers’ Strategy to Overcome It?



Heri Retnawati
Dr., corresponding author, Yogyakarta State University, Indonesia, heri_retnawati@uny.ac.id
Badrun Kartowagiran
Prof., Yogyakarta State University, Indonesia, kartowagiran@uny.ac.id
Janu Arlinwibowo
M.Pd., Yogyakarta State University, Indonesia, januarlinwibowo@windowslive.com
Eny Sulistyaningsih
M.Pd, Yogyakarta State University, Indonesia, enylistya@gmail.com

The quality of national examination items plays an enormous role in identifying students’ competencies mastery and their difficulties. This study aims to  identify the difficult items in the Junior High School Mathematics National Examination, to find the factors that cause students’  difficulty  and to reveal the strategies that the teachers and the students might implement in order to overcome  them. The study is phenomenological research with the mixed methods. The data were collected using documentation  of  students’  responses  and  focus  group  discussion  (FGD)  of teachers. The data analysis was conducted using Milles & Hubberman steps. The results of the study showed that there were 4 difficult items of the 40 test  items for the  students.  The  students’  difficulties  were  the  lack  of  concept  understanding, difficulties in calculating, difficulties in selecting information, being deceived by the distractors, being unaccustomed to completing complex and non-integers test items, and completing contextual test items that have been presented in the form of figures or narrative texts.

Keywords:  difficult  items,  influencing  factors,  teachers’  strategy,  examination,
mathematics

This article was published in International Journal of Instruction, Vol. 10, No.3. If You wanna get the pdf file, you can click this link [download]
   
Turkish Abstract
Ulusal  Matematik  Sınav  Soruları  Neden  Zor  ve  Öğretmenlerin  BununÜstesinden  Gelmek
İçin Stratejileri Neler?
Ulusal  sınav  sorularının  kalitesi,  öğrencilerin  yetkinliklerinin  ve  zorlandıkları  konuların belirlenmesinde büyük rol oynamaktadır. Bu çalışma, Ulusal Ortaokul Matematik Sınavının zor öğelerini belirlemeyi, öğrencilerin zorlanmalarına neden olan faktörleri bulmayı ve öğretmenlerin ve öğrencilerin uygulayabilecekleri stratejileri ortaya çıkarmayı amaçlamaktadır. Çalışma karma yöntemle yapılmış fenomenolojik bir araştırmadır. Veriler, öğrenci yanıtlarının dokümantasyonu ve öğretmenlerin odak grup görüşmesi (FGD) kullanılarak toplanmıştır. Verilerin analizi, Milles &  Hubberman  adımları  kullanılarak  gerçekleştirilmiştir.  Çalışmanın  sonuçları  sınavın  40  test öğesinden 4'ünün öğrenciler için zor olduğunu göstermiştir.
Anahtar Kelimeler: zor öğeler, etkileyen faktörler, öğretmenlerin stratejileri, sınav, matematik

French Abstract
Pourquoi  sont  les  Mathématiques  Articles  d'Examen  nationaux  Difficiles  et  Comment  la
Stratégie de Professeurs doit Le surmonter?
La qualité d'articles d'examen nationaux joue un énorme rôle dans l'identification de la maîtrise de compétences des étudiants et leurs difficultés. Cette étude a pour but d'identifier les articles difficiles dans les Mathématiques de Collège l'Examen national, trouver les facteurs qui causent la difficulté des étudiants et révéler les stratégies que les professeurs et les étudiants pourraient mettre  en  œuvre  pour  les  surmonter.  L'étude  est  la  recherche  phénoménologique  avec  les méthodes  mixtes(mélangées).  Les  données  ont  été  rassemblées  utilisant  la  documentation  des réponses des étudiants et la discussion de groupe de discussion (FGD) de professeurs. L'analyse de données a été conduite utilisant des Pas(Étapes) de Hubberman et des Moulins(Usines). Les résultats  de  l'étude ont  montré  qu'il  y  avait  4  articles  difficiles  des  40  articles  de  test  pour  les étudiants.
Mots  Clés:  articles  difficiles,  influençant  facteurs,  la  stratégie  de  professeurs,  examen, mathématiques
  
German Abstract
Warum  sind  die  Mathematik-Nationalen  Prüfungsgegenstände  schwierig  und  was  ist  die Strategie der Lehrer zu überwinden?
Die Qualität der nationalen Prüfungsgegenstände spielt eine enorme Rolle bei der Ermittlung der Kompetenzen  der  Studierenden  und  ihrer  Schwierigkeiten.  Diese  Studie  zielt  darauf  ab,  die schwierigen  Punkte  in  der  Junior  High  School  Mathematics  National  Examination  zu identifizieren, um die Faktoren zu finden, die die Schwierigkeiten der Schüle r verursachen und die  Strategien  offenbaren,  die  die  Lehrer  und  die  Schüler  umsetzen  könnten,  um  sie  zu überwinden.  Die  Studie  ist  phänomenologische  Forschung  mit  den  gemischten  Methoden.  Die Daten  wurden  unter  Verwendung  der  Dokumentation  der  Schülerreaktionen  und  der Fokusgruppen-Diskussion (FGD) der Lehrer gesammelt. Die Datenanalyse wurde mit Milles & Hubberman-Schritten  durchgeführt.  Die  Ergebnisse  der  Studie  zeigten,  dass  es  4  schwierige Gegenstände der 40 Testartikel für die Schüler gab.
Schlüsselwörter:  schwierige  gegenstände,  einflussfaktoren,  lehrerstrategie,  untersuchung, mathematik

Minggu, 21 Mei 2017

Keberpihakan UNBK pada Difabel Netra



Pada dasarnya Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) bukan hal baru, tahun 2015 diselenggarakan oleh 554 sekolah dan tahun 2016 dilaksanakan di 4.382 sekolah. Tahun ini menjadi lebih heboh karena hampir seantero nusantara yaitu 30.813 sekolah menyelenggarakan UNBK. Ujian Nasional dijadwalkan pada tanggal 3-6 April 2017 untuk SMK, 10-13 April 2016 untuk SMA/MA dan 2-16 Mei 2017 untuk SMP.
Difabel netra dan UNKP
Difabel netra sering menjadi sorotan dalam penyelenggaraan tes. Selama ini, Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNKP) tidak dapat terakses oleh difabel netra sehingga harus ada modifikasi perubahan huruf visual menjadi huruf taktual (Braille). Namun faktanya, penggunaan huruf Braille oleh difabel netra bukan tanpa kendala. Menurut Mani dan rekan-rekan dalam buku mathematics made easy for childern with visual impairment, salah satu masalah membaca huruf timbul adalah membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan membaca huruf visual. Maka alokasi waktu ujian yang logis untuk siswa umum menjadi tidak presisi jika dikerjakan oleh difabel netra, pasti ada keluhan sempitnya waktu mengerjakan. Fakta tersebut dikuatkan dengan hasil riset penulis yang menunjukan data bahwa difabel netra lebih nyaman mengerjakan soal audio dibanding soal dengan huruf Braille karena dapat dibaca dengan lebih cepat dan relatif mudah untuk mencari soal nomor sebelumnya.
Menguntungkan? (Teorinya)
Terdapat dua jenis difabel netra yaitu low vision yaitu orang yang pengelihatannya sangat terbatas, bahkan kacamata tidak mampu membantunya untuk melihat secara normal sehingga dalam proses belajar menggunakan huruf yang diperbesar secara ekstrim dan buta total yaitu orang yang sudah tidak dapat mengakses informasi visual sehingga dalam belajar harus menggunakan huruf Braille.
Pemanfaatan TI memiliki potensi besar untuk mengondisikan ujian mudah terakses oleh difabel netra. Teknologi membuat setting menjadi sangat luwes sehingga sesuatu yang tidak mungkin di UNKP menjadi mudah di UNBK.
Dewasa ini sudah tidak kaget melihat difabel netra mengoperasikan handphone dan laptop. Perkembangan teknologi menelurkan suatu perangkat lunak screen reader yang memfasilitasi difabel netra mengakses telepon genggam ataupun komputer. Prinsipnya adalah mengonversi tulisan dan simbol yang ada dilayar monitor menjadi suara. Demikian maka siswa buta total dapat mengerjakan UN dengan mudah karena soal dapat disuarakan dengan bantuan software screen reader. Low vision juga mendapat keuntungan dengan dipaparkannya soal dalam komputer karena soal dapat diperbesar sesuai keinginan. Kemudahan tersebut adalah hal yang mustahil dilakukan pada format UN terdahulu. Dengan demikian maka secara teori UNBK ramah pada difabel netra.
Fakta Kekinian
Dalam praktiknya, masih ditemukan kendala implementasi UNBK. Seperti contoh kasus aduan dari SMKN 2 Surabaya dan SMKN 5 Surabaya yang menyampaikan bahwa beberapa soal yang tidak muncul atau tidak muncul secara utuh. Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, Prof. Nizam menduga bahwa kejadian itu disebabkan oleh hardware dan software kurang mendukung sehingga tidak mampu menampilkan soal audio dan video secara baik.
Berkaca dari kasus di Surabaya yang notabene kota besar, beralasan jika ada dugaan bahwa di sekolah pinggiran dengan fasilitas yang lebih minim muncul kendala pula. Padahal justru kecanggihan dalam menampilkan gambar, audio, ataupun videolah yang menjadi penentu utama agar UNBK menguntungkan bagi difabel netra.
Kelola Potensi
Nasib difabel netra menjadi sangat baik saat semua potensi dikelola dengan benar sehingga semua keuntungan dapat terwujud. Kesanggupan sekolah dalam menyiapkan segala fasilitas pendukung merupakan kunci sukses pelaksanaan UNBK yang ramah bagi difabel netra. Hal yang pertama harus dijamin oleh sekolah adalah fasilitas hardware dan software termasuk ketersediaan software screen reader pada komputer dan headphone sebagai piranti difabel netra dalam mengakses output audio. Kedua, harus ada pembekalan kemampuan mengoperasikan komputer secara intensif. Sekolah harus memastikan semua siswanya telah terlatih sehingga tidak gagap dalam menjalani ujian. Ketiga, pemerintah harus memastikan gambar dan tulisan pada soal memiliki resolusi yang baik sehingga jika diperbesar oleh siswa low vision tidak “pecah”. Keempat, gambar harus dilengkapi oleh deskripsi untuk memfasilitasi siswa buta total. Pada umumnya, difabel netra diberikan fasilitas seorang pendamping untuk mendeskripsikan gambar, namun jika sudah ada fitur dalam soal yang menyediakan deskripsi maka akan lebih baik. Kelima, dalih mahalnya pengadaan perangkat yang canggih oleh sekolah merupakan perhatian khusus dalam kasus ini. Harus ada komitmen khusus antara pemerintah dan sekolah dalam menyediakan fasilitas UNBK sehingga dapat memfasilitasi memfasilitasi dengan baik.
Tidak ada kata minoritas dalam merawat Bhinneka

Dimuat pada Harian Bhirawa, 15 Mei 2017 [klik]

Jalan Tengah SM-3T



Sejak bulan April 2017, program sarjana mengajar di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (SM3T) yang identik dengan pendidikan profesi guru (PPG) menjadi perbincangan hangat. Kedaulatan Rakyat (21/04/2017) menyebutkan bahwa akan ada revisi regulasi oleh Kemenristekdikti. Seminggu sebelum berita tersebut muncul, Jawa Pos (15/04/2017) menyiarkan bahwa ada kemungkinan SM3T akan dicukupkan sehingga tahun ini menjadi seri pamungkas. Alasan pemerintah adalah bahwa selama lima tahun ini program PPG hanya dapat diakses oleh alumnus SM3T (3000 personil per tahun) saja, padahal kebutuhan nasonal mencapai 300.000 guru. Secara kalkulasi matematis maka dibutuhkan 100 tahun tanpa menghitung angka pensiun. Untuk menggantinya, pemerintah menyiapkan program gabungan yaitu penyiapan 3.500 guru produktif SMK, 3.500 guru SD dan SMP, dan menuntaskan proses pendidikan 3.007 peserta SM3T. Alasan kedua adalah SM3T dianggap tidak sejalan dengan UU Guru dan Dosen yang mengatakan bahwa guru harus memiliki sertifikat profesi.
Namun, pada tanggal 25 April 2017, Tribun Jateng memuat pemberitaan bersumber dari Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang menyebutkan bahwa program SM3T tidak jadi dihentikan. Prof. Rochmat Wahab, mantan rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyayangkan jika SM3T dihentikan. Pemerintah harus melakukan hitung-hitungan matang mengenai keterlaksanaan suatu program berdasarkan kesesuaian dengan hukum, kebermanfaatan, dan peran pada ketercapaian tujuan bangsa.
Peran nyata serdadu SM3T nampak pada hasil penelitian Subarkah tahun 2016 dengan responden peserta PPG di UNY memuat kesimpulan bahwa SM3T telah membantu daerah dalam menyelenggerakan pendidikan. Selain itu, Sekertaris Daerah Kabupaten Lanny Jaya, Papua, Kristian Soholait dalam acara Silaturahmi Nasional SM3T di Jakarta mengaku bahwa program sarjana mengajar sangat membantu daerahnya yang kekurangan guru.
Nawa Cita
Salah satu poin dari nawa cita adalah membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Pada poin inilah SM3T memiliki peran strategis karena membantu meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terpencil dan pinggiran nusantara. Namun masalahnya, 3T adalah lokasi dengan citra menyeramkan, mulai dari minimnya sarana dan prasarana, perbedaan kultur, hingga keamanan. Hal tersebut mengakibatkan rendahnya minat calon guru untuk mengabdi. Bahkan dengan iming-iming tunjangan pun mereka tetap tidak bergeming.
Sarjana mengajar adalah strategi untuk mempublikasikan bahwa citra negatif hanyalah mitos tak berdasar. Satu tahun di daerah terpencil tampaknya cukup untuk melunturkan ketakutan hingga memunculkan rasa bahwa kehidupan di 3T itu adalah hal biasa, tidak ada bedanya, atau justru mengasyikan. Banyak sekali curhatan mantan sarjana mengajar di media online yang mengisahkan perjalanannya, sangat inspiratif dan persuasif. Dengan demikian maka negara sangat merugi jika SM3T tidak dilanjutkan.
Alumnus SM3T merupakan kelompok potensial yang dapat diandalkan untuk membangun daerah terpencil. Pengalaman mengabdi membangun ikatan emosional yang membuat mereka jauh lebih mudah untuk memutuskan pergi mengabdi ke 3T. Jiwa dan tekat demikian jarang sekali dimiliki oleh orang yang belum pernah merasakan hidup di daerah terluar, terpencil, dan tertinggal. Keuntungan kedua adalah, guru SM3T menjadi agen rekruitmen pejuang perbatasan. Tidak ada strategi yang lebih massive dalam menggaet pemuda-pemudi untuk mengabdi di 3T selain melalui sharing pengalaman pelaku yang notabene adalah teman sebaya. Dengan demikian maka penguatan Indonesia melalui pinggiran dapat terealisasi.
Solusi Lukir
Harus diakui bahwa terdapat ketidaksesuaian antara SM3T dengan UU Guru dan Dosen. Namun, mengingat peran positifnya, sangat disayangkan jika program tersebut harus dicukupkan. Untuk mempertahannya, harus ada modifikasi sehingga selaras dengan peraturan yang berlaku. SM3T terdiri dari dua paket, pertama adalah mengabdi sebagai guru di 3T kemudian dipulangkan untuk menempuh PPG. Modifikasi yang dapat dilakukan adalah merubah urutannya, mahasiswa diberikan kuliah PPG terlebih dahulu dan memperoleh sertifikat profesi kemudian ditempatkan magang di 3T. Dengan demikian maka SM3T dapat terus memberikan pengaruh positifnya sebagai salah satu ujung tombak nawa cita tanpa harus berseberangan dengan Undang-Undang. Menuju meratanya kecerdasan di Indonesia.
Dimuat pada tanggal 15 Mei 2017 di Kedaulatan Rakyat