Social Icons

Pages

Rabu, 27 Juni 2012

SERIAL XL AWARD

"Runtuhnya Paradigma"

Sangat indah melihat esai teman dengan judul "idealisme: sang pedang bermata dua" atau "ku gadaikan bangsa ini demi sebatang rokok". Tulisan-tulisan teman ini saya jadikan rujukan untuk menulis saat SMA dan menghasilkan tulisan "bank syariah, karenamu aku mampu gendong anak istriku" dan "sepeda motor, sahabat yang siap menjadi boomerang dalam hidup". Awal masuk kuliah beberapa kali mencoba menulis dan memang tidak ada rasa nyaman dengan jenis tulisan ini, walaupun saya akui, saya sangat suka dengan tulisan populer. 
Esai atau karya ilmiah populer merupakan jenis karya ilmiah yang saya anggap sebagai sesuatu yang jauh dari mahasiswa eksak. Paradigma ini muncul pada awal masuk perkuliahan: "mahasiswa MIPATEK tidak akan mampu menjuarai ajang lomba karya tulis populer bergengsi, tingkat nasional". Paradigma ini terkonstruksi dalam otak saya. Paradigma ini mengacu pada asumsi awal yang saya anut bahwa penulisan populer sangat erat dengan opini, perbendaharaan kata, dan alur logika. Saya sebagai mahasiswa MIPA merasa sangat lemah mengenai kemampuan mengungkapkan opini, apalagi tidak didukung dengan wawasan dan perbendaharaan kata yang cukup sehingga sangat kaku dalam bergeliat menyusup kedalam masalah-masalah detail.
Lama meninggalkan ketertarikan menulis karya tulis populer, saat masa akhir mahasiswa (semester 8) ada kesempatan menulis lagi. Tanpa dilandasi semangat dan sangat pesimin dengan kemampuan diri sendiri membuat proses penulisan tidak fokus. Tapi karena ajakan teman untuk berpartisipasi dalam XL Award 2011 akhirnya esai dengan judul "Menguak poros potensial pengembang intelektual tunanetra (Optimalisasi Industri selular sebagai pendamai tunanetra dengan kegelapan)". Setelah terkirimnya karya, event segera saya lupakan (dampak pesimis karena saya nilai tulisan yang terkirim sangat sederhana dan pengemasannya memang tidak menarik).
Tiba-tiba selang berbulan-bulan, pihak XL menelpon dan memberitahukan bahwa saya masuk sebagai finalis dan diminta ke jakarta. Saya pun ragu, lalu menanyakan status saya di lomba itu. Panitia mengatakan saya termasuk dalam finalis. Saat saya meminta surat undangan, panitia bilang semua finalis hanya diundang via phone. Kondisi ini semakin membuat saya bimbing karena biaya transport tidak sedikit, minimal 500rb harus saya siapkan untuk ke jakarta (uang sebanyak itu sangat berarti untuk saya), dan tentunya waktu saya sangat berharga untuk mahasiswa skripsi...(hehehe). 
Tapi dalam kondisi yang santa unik, saya sampai di corwne plaza jakarta tanggal 30 April 2012. Ini pengalaman yang sangat aneh dan luar biasa. Keraguan saya untuk ke jakarta dalam acara penganugrahan itu  hilang karena rencana Alloh yang luar biasa. Tanggal 26-30 saya diminta LIPI untuk ke malaysia dalam acara i-envex. Jadwal kepulangan adalah tanggal 30 April 2012 dan sampai di bandara soeta jam 11.00 WIB. Luar biasanya penganugrahan XL award dimulai jam 12.00 WIB dan lebih kebetulan lagi tiket kepulangan soeta-adisucipto yang sudah saya pesan jauh hari sebelum mendapat pemberitahuan dari XL award jam 17.00 WIB. Kebetulan yang sangat luar biasa.
Sesampai di soeta, kontingen Indonesia berpisah, lebih kebetulan lagi pak Bogie langsung akan menghadiri rapat di LIPI pusat dan crowne plaza jaraknya sangat dekat dengan LIPI, saya diberi tumpangan. Keberuntungan-keberuntungan yang datang tiba-tiba terasa luntur karena sesampai di lokasi panitia XL award mengundur acara menjadi jam 14.00 - 16.00. Kebimbangan muncul lagi karena pesawat take off jam 17.00. Niatan untuk tidak mengikuti acara pun muncul karena status saya yang tidak jelas "finalis" menjadikan tiket pesawat berasa sangat berharga. Saya coba masuk ke ruangan dan kaget steny agustaf sedang latihan ngeMC. Saat masuk ruangan yang masih sepi itu steny sedang latihan membacakan pemenang dan saya kaget karena terbaca bahwa saya jadi salah satu pemenang. Luar biasa, keraguan langsung hilang dan mantab untuk membatalkan tiket pesawat, biarin saja tiketnya hangus, sedekah sama maskapai...hehehe
Kaget saya melihat pers rilis yang berbunyi "XL Award 2011 mulai menerima karya peserta sejak September 2011 dan berakhir pada awal Januari 2012. Hingga waktu pengiriman ditutup, telah masuk sebanyak 2118 karya peserta, yang terdiri dari 840 karya tulis, 1278 foto, 1070 twitter, dan 926 facebook." Luar biasa paradigma yang selama ini saya pegang runtuh,  "mahasiswa MIPATEK tidak akan mampu menjuarai ajang lomba karya tulis populer bergengsi, tingkat nasional". 
Alhamdulillah, Alloh telah memberi kesempatan saya untuk meruntuhkan kepesimisan dan paradigma yang menjadi pedoman bertahun-tahun. "IMPOSSIBLE IS NOTHING"

foto bareng mas MC (Steny Agustaf) 


Foto penganugrahan karegori UMUM




Rabu, 02 Mei 2012

Series of International Engineering Invention and Innovation Exhibition (i-ENVEX) 2012

(Bagian Klimaks)

Tim Indonesia

Tim Indonesia

Tim Indonesia


Sampai di Pinang tanggal 26 April 2012 sekitar jam 9. Di depan pintu keluar Bandara Pinang sudah siap Bus dari UniMAP yang bertugas untuk menjemput kami. Saat ini juga kami tim Indonesia yang dikoordinatori LIPI tahu bahwa ada tim Indonesia lainnya yang turut serta dalam i-ENVEX yaitu tim yang dibawa oleh Surya Institute. Kami duduk dalam satu bus menuju ke Dewan 2020 guna registrasi peserta. Setelah registrasi selesai kami diantarkan ke rumah tetamu, disinilah penginapan yang disediakan untuk kami.

Dewan 2020


Rumah Tetamu


Tanggal 26 April 2012, kegiatan kami adalah menyiapkan meja pameran saja dan beristirahat tentunya. Memasang poster, menyiapkan brosur, menata perangkat, dan lain sebagainya. Karena alat kami yang banyak dengan meja yang lumayan minimalis, membuat kami bingung untuk menata sehingga kami menitipkan beberapa barang di meja sebelah...hehehe



Setalah dirasa cukup, kami semua kembali ke rumah tetamu untuk beristirahat, menyiapkan energi untuk penjurian esok harinya. Untuk lomba kali ini kami tidak memiliki ekspektasi yang tinggi, mengingat cakupan peserta dan kami sadar betul bahwa kualitas produk peserta lain sangat luar biasa. mengharap keberuntungan dan memantabkan hati untuk menerima semua hasil adalah satu-satunya jalan. Dibawah ini adalah cerminan dari kondisi dan heterogenitas peserta lomba.






Tamu terus berdatangan dan kami dituntut untuk menerangkan invensi yang kami usung. Penjelasan yang kami lakukan dengan beberapa bahasa, tergantung permintaan dari pengunjung (hehehe...). Untuk beberapa pengunjung meminta diterangkan dengan bahasa Indonesia, walaupun sebagian besar dengan bahasa Inggris.




Tanggal 28 April 2012 adalah jadwal kami untuk trip. Agenda kami adalah mengunjungi berbagai tempat bersejarah di Pinang. Pertama kita diantar oleh panitia ke musium perang. Tempat ini didesain mirip dengan kondisi perang sehingga pengunjung bisa merasakan sendiri nuansa perang. Terdapat lorong gelap, terdapat lorong yang harus merangkak, terdapat jalan bawah tanah, terdapat pintu keluar yang harus naik tangga, miniatur pemenggalan. dan masih banyak lagi.






Setelah museum perang, kita berlanjut ke fort cornwallis, kalau di jogja benteng vredenberg lah...hehehe






Perjalanan trip telah selesai, kembali ke rumah tetamu. Menyiapkan tenaga untuk kembali pameran esuk hari. Pameran tanggal 29 berjalan seperti biasa, bedanya adalah pameran ini diakhiri dengan pengumuman peraih penghargaan. Pengumuman peraih penghargaan dibacakan pada sekitar jam 16.00. Alhamdulillah dari kami semua mendapatkan predikat. 
Mirza, Tita dan Rivo dengan Atherosclerosis Vaccine Using Heat-Killed Salmonella Typhimurium: A new approach for coronary artery disease pevention mendapatkan medali emas,
Hendri Sinaga dan Yosephine Yulia dengan Utilization of promacea sp. shell biodisel production mendapatkan medali emas.
Kami, Delthawati Isti R, Rina Supriyani, dan Janu Arlinwibowo dengan The innovation of psycal measuring instrument in Braille for visually impaired students mendapatkan medali perak
dan,
Gregorius Rionugroho dan Harum Nissa dengan utilization of waste cooking oil and ash rind kapok to produce an organic soap based on green technology mendapatkan medali perak








Selasa, 01 Mei 2012

Series of International Engineering Invention and Innovation Exhibition (i-ENVEX) 2012


(Bagian Koordinasi di Jakarta)


Monggo lihat video di bawan ini....


Tanggal 25, kami berangkat meninggalkan Jogja untuk mengikuti International Invantion and Innovation Engineering Exhibition (i-ENVEX) 2012. Awal dari perjalanan kami adalah terbang ke Jakarta untuk berkoordinasi dengan LIPI selaku koordinator kami. Pesawal kami berangkat pukut 10.10 WIB dan mendarat di bandara Soe-ta pada jam 11.00. Setelah keluar dan mengurus bagasi kami bergegas mencari Taxi untuk meluncur ke LIPI. Walaupun sudah sempat bersama dalam Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) 2011 Oktober silam, kami masih buram, ikatan silaturahmi belum terbentuk secara erat. Dalam acara ini kami membawa karya dengan judul The Innovation of psycal quantity measuring instrumen in Braille for visually impaired students.
Sampai di LIPI sekitar pukul 13.00 WIB, kami langsung mantab menuju sasana widya sarwono lalu lapor ke keamanan dan naik ke lantai 5, seperti yang sudah diinformasikan oleh bu Indri pada kami. Sesampai di lantai 5, kami langsung masuk pada ruang yang memang sudah tidak asing lagi bagi kami, dan melapor ingin bertemu dengan bu Indri. Lalu kami diminta masuk dalam ruang tersendiri, tengok kanan tengok kiri ternyata kami tim pertama yang hadir.
Selang beberapa saat dateng tim lain (tepatnya panggil teman...:D...), ini adalah tim dari Universitas Diponegoro dengan Gregorius Rionugroho dan Harum Nissa. Mereka adalah juara 1 PPRI bidang teknik tahun 2011. Mereka mengangkat judul: Utilization of waste cooking oil and ash rind kapok to produce an organic soap based on green technology . Kami ditempatkan dalam ruang yang sama dan diberikan banyak pengarahan, salah satunya oleh pak Bogie selaku kepala Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI. Gambaran-gambaran tentang i-ENVEX diceritakan secara gamblang oleh beliau sehingga memberikan lukisan tajam pada imajinasi kami, dan itulah bekal awal yang luar biasa dalam membangun motivasi kami.
Selesainya pengarahan, kami dikondisikan untuk melengkapi dan menyelesaikan berbagai masalah administratif, yang paling menyenangkan adalah dikasih baju batik sragam (alhamdulillah tambah lagi bagi batik gratis). Sambil berbincang ringan tiba-tiba datang dateng tim lain (tepatnya panggil teman...:D...), ini adalah tim dari Universitas Brawijaya dengan Mirza, Tita dan Rivo. Mereka adalah mahasiswa kedokteran yang membawa judul Atherosclerosis Vaccine Using Heat-Killed Salmonella Typhimurium: A new approach for coronary artery disease pevention.
Kami ditempatkan di asrama LIPI untuk menginap, karena jam 3 pagi kami harus berangkat ke bandara. Sangat pagi karena pesawat kami terbang pukul 05.30 WIB. Jam 2 malam kami sudah berebut kamar mandi dan berdandan berbasis batik. Sesampainya di bandara Soeta, bu Indri dan bu Kris sudah menunggu di terminal. Di terminal juga sudah nampak Henry Sinaga (tim dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya). Henry membawa karya dengan judul Utilization of promacea sp. shell biodiesel production. Dia berangkat pagi itu tanpa Yosephine Yulia yang masih ada acara lomba di Bandung dan akan menyusul datang pada tanggal 27 April 2012. 
Setelah semua lengkap dan siap...
Mari menuju Pinang, Malaysia...

Minggu, 22 April 2012

Series of International Engineering Invention and Innovation Exhibition (i-ENVEX) 2012

(Part Plan of Departure)

Thank to Alloh because give amazing opportunity
After we won in PPRI 2011, LIPI give something special for our team, we delegated in international competition. This competition is International Engineer Invention and Innovation Exhibition (i-Envex). 
Our plan, we go to jakarta 25th April 2012 in the morning and arrive jakarta in the noon, then we go to LIPI office at Jalan Jend Gatotsubroto No. 10, Jakarta. we have aim in this place, we will coordinate with other indonesia delegation and LIPI as coordinator us.


LIPI delegating 5 team for i-envex.


We ask for prayer, may Alloh give me the best and we can finish in this competition. Tnx

Rabu, 22 Februari 2012

PENGEMBARAAN SATGAS 6: GEMBIRALOKA

Karena salah satu dari 6 itu ada yang punya cerita ekstrim dan meluap-luap ingin berbagi pengalaman (zink....) hehehe... Maka dibuatlah acara dadakan yang semula dijadwalkan minggu, berubah jadi sabtu, dan akhirnya dilaksanakan pada hari jumat...(lumayan lah...tanpa sengaja mengelabuhi beberapa oknum yang selalu mengintai dari radius beberapa kilometer jauh disana...hehe)
Masuk...diawali dengan sasa yang makan dan hanip+azi foto-foto...inilah awal cerita kita devisit 100rb,
laper sa...???

foto-foto...lenscapnya dilepas ayoooo....

Setelah saya, Aruf dan Hapsara datang, Sasa sudah kenyang, kita membeli tiket. Cukup dengan 12rb maka kita dapat melihat semua koleksi hewan di gembiraloka,
Rp. 12.000,00

Masuk dengan tiket 12rb, naluri langsung mendorong untuk berpose di depan kamera...baru masuk tangga pertama,
pose 1

pose 2

Masuk ke tempat reptil senengnya...ah ternyata sasa gak mau ikut, takut sama ular. 

reptil area 1

reptil area 2

reptil area 3

reptil area 4

Setelah keluar dari area reptil, sasa kembali bergabung. berjalanlah kita menuju area unggas.

hormat pada kamera...^^

Setelah ini, sesi foto teakhir di kolam yang ada kapalnya,

pose berpencar

pose tugu

pose menara

pose prespektif

pose hormat pada semua

pose berlayar








Sabtu, 31 Desember 2011

XL, KATALISATOR POTENSIAL PEBANGKIT EKONOMI RAKYAT (Membuka Ruang Pemberdayaan Industri Kreatif Melalui Program Modem Bundling)

Oleh: Kuntari Dasih

Telekomunikasi dalam Basis Era Transparansi
“sektor telekomunikasi menjadi pembelanja terbesar dari total pengeluaran agregat di kuartal III/2011. Jumlah itu tumbuh 89% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu”
(Irawati Pratignyo, Managing Director untuk Media Group di Nielsen Indonesia )

Perkembangan peradaban yang ditandai dengan adanya circle evolution telah mengarah pada era globalisasi yang tak terbendung. Dimulai dengan komparasi ekonomi yang tercermin dari adanya competitive adventage, kemudian merambah luas ke dunia teknologi yang ditandai dengan akses e-(elektronik). Tak dapat dipungkiri bahwa arus globalisasi yang bercirikan keluesan tanpa hambatan telah menempatkan telekomunikasi termasuk di dalamnya operator seluler untuk menjadi based core actor. Berbagai diversifikasi produk kemudian muncul untuk mensupply permintaan pasar yang semakin menggelembung.
Adanya kemajuan telekomunikasi telah membawa dunia pada lintas tanpa batas sehingga tercipta akselerasi di berbagai bidang, tak terkecuali di bidang ekonomi. Bagi dunia usaha, khususnya industri seluler, hal ini merupakan stimulus untuk menggenjot profit dari opportunity yang paling tinggi. Begitu pula dengan konsumen, mereka akan berusaha mengkombinasikan budget line demi mencapai utilitas yang maksimum. Kondisi ini kemudian dimanfaatkan dan dilirik sebagai lahan penetrasi bisnis karena didukung pula dengan komposisi penduduk yang tinggi. Seperti yang dikutip dalam harian kompas bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2011 mencapai 241 juta jiwa, lebih tinggi dibandingkan tahun 2010 yaitu 237,6 juta jiwa[1].
Kenyamanan dan kecanggihan akses telekomunikasi sudah menjadi hal instan yang mudah didapatkan. Namun, hal tersebut tidak berbanding lurus ke segala aspek kehidupan. Sebuah konklusi menarik dapat diambil dari UU Telekomunikasi No.39 tahun 1999 bahwa di samping menciptakan iklim yang kompetitif dalam menggerakkan persaingan usaha, industri telekomunikasi selayaknya bisa menjadi motor penggerak bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat di tengah kompetisi global yang memanas. Hal Ini dapat diwujudkan dengan ikut berpartisipasi dalam mengembangkan perekonomian rakyat melalui gerakan ekonomi riil. Lalu, apakah industri seluler sudah benar-benar berpartisipasi dalam konsesi pembangunan ataukah hanya menjadi jangkar kecil di tengah kenyamanan dunia bisnis?

Industri Seluler dalam Korelasinya dengan UU No. 36 Tahun 1999 (Studi tentang Tujuan dan Manfaat dalam Bab II pasal 3)
Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa telekomunikasi memegang peranan yang vital dalam sebuah negara. Bahkan bisa dikatakan merupakan tonggak berjalannya kehidupan, baik ekonomi, sosial, politik dan budaya.
Menyorot pada fungsi dan manfaat dari pendirian industri seluler yang tertuang dalam UU No. 36 Tahun 1999 Bab II pasal 3 berbunyiTelekomunikasi diselenggarakan dengan tujuan untuk mendukung persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata, mendukung kehidupan ekonomi dan kegiatan pemerintahan, serta meningkatkan hubungan antarbangsa”. Selain memegang peran dalam memudahkan encoding jarak jauh dalam kaitannya dengan penguatan persatuan dan kesatuan bangsa, telekomunikasi juga mempunyai peran implisit untuk membantu meningkatkan economic growth baik dari tingkat mikro sampai tataran makro.
Bukan hal yang mudah mengingat di satu sisi ada persaingan yang semakin ketat, namun di sisi lain dominasi masyarakat terutama di daerah urban belum siap memberikan tanggapan dan respon balik. Akibatnya, ada ketimpangan yang tinggi dalam arus informasi, dalam praktek dan penerimaan teknologi, yang pada akhirnya berakibat pada retardation of economic. Di sinilah peran industri seluler sangat dibutuhkan yaitu sebagai komunikan yang menjembatani antara pihak yang mengalami shortage (baca:UMKM) dan excess (baca:industri besar yang sudah merasakan dampak kemajuan teknologi) sehingga dapat tercipta suatu titik equilibrium yang dapat dirasakan oleh semua kalangan. Lalu, bagaimana menciptakan keseimbangan agar semua pihak dapat merasakan dampak kemajuan teknologi telekomunikasi?

Umkm sebagai Basis Perekonomian Rakyat
SME atau lebih dikenal dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah dipercaya sebagai unit yang penting untuk mendukung perkembangan ekonomi suatu negara. Terdapat tiga tingkatan pada sektor industri ini, yaitu mikro, kecil, dan menengah. Industri dikatakan mikro apabila modal usahanya kurang dari 50 juta, kecil antara 50 juta hingga 500 juta, sedangkan industri menengah modalnya berkisar antara 500 juta hingga 1 Miliar. Jumlah UMKM di Indonesia tercatat sebanyak 42,4 juta dan memberikan kontribusi 56,7% dari total GDP[2].
Melalui pendirian industri berskala mikro, kecil, dan menengah diharapkan dapat menjawab permasalahan pengangguran. UMKM berusaha untuk menyedot pengangguran dalam jumlah banyak dan mengubahnya sebagai bagian dari  faktor produksi asli (SDM). Tahun 2008 usaha mikro menyerap 83.647.711 pekerja atau sekitar  86,89% tenaga kerja. Angka tersebut juga mengalamai tren positif dengan kenaikan rata-rata sekitar 2,26% selama periode tahun 2006-2008[3].
Dengan berkurangnya pengangguran maka tingkat daya beli masyarakat akan meningkat, sehingga menambah persentase untuk konsumsi. Konsumsi rumah tangga inilah yang diharapkan mampu menyumbang pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi produk-produk dalam negeri. Muaranya, tentu akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Gambar 2. Grafik Proyeksi Konsumsi Rumah Tangga

Dalam jangka panjang, sustainability UMKM dapat menjadi saingan mutlak sekaligus benteng pertahanan terhadap masuknya produk-produk dari luar negeri. Angka pengganda (multiplier effect) dan perputaran modal industri UMKM hanya sebatas di dalam negeri, sehingga apabila terjadi gejolak krisis ekonomi global sektor ini tidak akan terkena imbasnya secara langsung. Bertahannya UMKM pada krisis ekonomi 1997/1998 semakin membuka mata kita akan ketangguhan sektor ini dalam menjaga stabilitas perekonomian Indonesia dari bahaya krisis ekonomi.

Potensi Indonesia sebagai Pelaku Umkm
Jumlah penduduk Indonesia terus mengalami kenaikan yang signifikan. Pada tahun 2010 jumlah penduduk berkisar 237 juta jiwa, sedangkan pada tahun 2011 sudah mencapai 241 juta jiwa, naik sekiar 4 juta jiwa dalam satu tahun. Sayangnya, kondisi ini kontras dengan tingkat pemenuhan kebutuhan dan kualitas hidup masyarakat. Badan Pusat Statistik memaparkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan pada Maret 2011 mencapai 30,02 juta orang atau 12,49 persen[4].
Apabila disandingkan dengan potensi sumber daya alam yang terbentang dari sabang sampai merauke, masyarakat Indonesia seakan ada dalam marginalitas yang diciptakan sendiri. Padahal jika dilihat secara gamblang, ada banyak potensi dari sektor pertanian, kebudayaan, bahkan kerajinan yang sudah menembus pangsa ekspor.
Indonesia menyimpan banyak produk unggulan yang dapat dijadikan alternatif bagi brand dan pencitraan UMKM. Seperti kain tenun khas Bali yaitu Grinsing yang merupakan salah satu produk unggulan yang ditampilkan di UKM Gallery, gedung Smesco Indonesia. Kain tenun Gringsing ini dihasilkan melalui metode ikat ganda, dan pada saat ini hanya bisa ditemukan di Gujarat dan India. Pulau Jawa pun menyimpan perrmadani berupa kain batik tulis  yang telah mendunia.
Tidak hanya itu, Kalimantan juga memiliki potensi khas yaitu Batik Sasirangan yang menjadi kain adat khas suku Banjar. Kerajinan ini dibuat dengan cara tradisional yaitu menggunakan teknik tusuk jelujur kemudian diikat dengan tali rafia, sehingga mempunyai nilai jual yang tinggi. Potensi kerajinan songket, assesoris, patung, anyaman, furniture serta produk anyaman juga tidak dapat dipandang sebelah mata karena hasil produk ini juga telah menyumbang kenaikan Gross Domestic Product yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Konklusi singkat yang dapat diambil bahwa Indonesia mempunyai potensi luar biasa dalam pengembangan UMKM sebagai basis perekonomian, selain karena kontribusinya terhadap peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) yang mencapai 56 persen dari seluruh total konsumsi rumah tangga, juga karena fungsinya yang dapat menyeluruh ke segala lapisan.

Komparasi Tren Produk Industri Seluler dalam Sektor UMKM (Tren Tiga Market Leader Industri Seluler)
-Telkom
PT. Telekomunikasi Indonesia mulai menyisir UMKM dengan melakukan ekspansi melalui program Private Cluster. Tujuannya agar Telkom dan UKM bissa sama-sama membangun industri telekomunikasi yang menguntungkan semua pihak sambil memberdayakan ekonomi rakyat.
Private Cluster merupakan program pemberdayaan area yang belum tersentuh oleh operator lain di kawasan rural ataudesa. Konkretnya, PT. Telkom mengajak kerja sama dealer pulsa skala UKM untuk pengembangan layanan. Melalui program ini, UKM yang bergerak di bisnis penjualan kartu perdana dan pulsa diberi keleluasaan mengembangkan layanan Flexi dengan dukungan dari Divisi Telkom Flexi.
-Indosat
Dalam menyikapi adanya persaingan yang semakin ketat, tak tanggung-tanggung operator seluler yang masuk dalam 3 peringkat atas inipun gencar melakukan pendekatan ke ranah UMKM. Salah satu produk yang sedang diluncurkan adalah layanan Blackberry Enterprise Service on Demand (BES on Demand).
Adanya sistem ini dapat memudahkan pelanggan untuk ter-sinkronisasi atau terhubung dengan mail inbox yang ada di komputer. Pelanggan juga bisa mengakses Global Address yang berisi alamat e-mail kantor serupa seperti yang terdapat pada inbox komputer. Sayangnya, layanan ini hanya bisa dinikmati oleh perusahaan berskala besar dengan server yang harus memenuhi spesifikasi tertentu.
-XL
Sebagai salah satu industri besar yang bergerak dalam bidang seluler, XL terus melakukan pengembangan dan terobosan baru untuk mempertinggi kualitas layanan dalam menjawab permintaan konsumen. Salah satunya yang sedang booming adalah program modem bundling yang sudah dimulai pada tanggal 10 Desember 2011. Program ini terlaksana dengan menggandeng ZTE Cooperation.
Bundling XL-ZTE ini adalah upaya XL untuk memanjakan pelanggan dalam mengakses Internet XL, yang lebih cepat, lebih jernih dan lebih jelas dengan jaringan XL Hot Rod 3G+. Dengan paket bundling pelanggan dapat menikmati layanan internet unlimited dengan kecepatan hingga 3,6 Mbps. Adanya program ini juga menjadi wujud komitmen XL dalam optimalisasi peningkatan layanan akes internet yang berkualitas.
Adanya inovasi-inovasi ini sayangnya kurang diimbangi dengan keterlibatan XL di sektor UMKM. Padahal sektor ini membutuhkan banyak suntikan dari operator seluler terkait telekomunikasi dan pemasaran. Oleh karena itu, untuk melengkapi resolusi yang telah ada, selayaknya XL juga ikut andil peran dalam pengentasan industri kreatif ke taraf yang lebih tinggi, dengan mengubah citra konvensional-tradisional menjadi enthusiastic-global.

XL sebagai Penggugah Kebangkitan Ekonomi Rakyat Melalui Pemberdayaan UMKM (Optimalisasi Program Gratis Modem Bundling untuk Menggerakkan Sektor Riil)
Sejak Januari hingga Maret tahun 2011 volume ekspor Indonesia sudah menurun 35%, jika hal ini berlanjut maka dunia usaha diperkirakan akan mengalami bleeding. Dibutuhkan upaya untuk menggerakkan kembali lokomotif perekonomian melalui gerbong industri kreatif karena entitas skala usaha ini mempunyai ketahanan sebagai jaring pengaman rakyat dalam menghadapi krisis dan turbulensi ekonomi. Dilihat dari segi jumlah unit usaha untuk tahun 2007 dan 2008, UMKM menguasai pangsa sebesar 99,99% dari keseluruhan pelaku usaha di Indonesia[5]. Menurut Indiarti, UMKM dapat diklasifikasikan dalam kriteria entrepreneurship[6] yang terdiri dari:
Livelihood activities. Yang termasuk dalam kategori ini adalah UMKM yang pada umumnya melakukan kegiatan produksi dan operasional untuk mencari nafkah. Para pelaku kelompok ini tidak memiliki jiwa kewirausahaan dan berada dalam sektor informal. Inilah yang mendominasi dari keseluruhan persentase UMKM yang ada di Indonesia.
Micro Enterprice. Kelompok ini biasanya lebih bersifat pengrajin, dalam artian tidak mempunyai skill dan mental untuk menciptakan inovasi dan pembaharuan sehingga mereka hanya tahu tentang cara bertahan, bukan menentang risiko untuk menciptakan peluang.
Small Dynamic Enterprises. Pelaku usaha dalam kategori ini sudah cukup mempunyai jiwa kewirausahaan sehingga memiliki peluang yang cukup potensial untuk dikembangkan. Sayangnya, jumlahnya hanya seperlima dari keseluruhan yang ada. Sisi positifnya, golongan ini sudah mampu melakuakan ekspor dan menerima pekerjaan subkontrak yaitu jalinan kemitraan dengan usaha besar.
Fast Moving Enterprises. UMKM dalam golongan ini sudah memiliki jiwa kewirausahaan yang mantap, mengarah pada pembaharuan dan selalu beradaptasi dengan keadaan yang berfluktuasi. Dari sinilah lahir pengusaha-pengusaha golongan menengah dan besar sehingga sangat potensial untuk dikembangkan menjadi core image UMKM.
Berkaca dari perkembangan yang ada, UMKM seakan mendapat tempat kedua dibandingkan dengan industri manufaktur dan industri besar lainnya mulai dari bantuan permodalan, marketing, sampai dengan subsidi produksi. Bahkan pola pengembangan yang selama ini dilakukan hanya mengacu pada sistem production linkage yaitu suatu mekanisme di mana UMKM hanya berlaku sebagai pemasok bahan baku dan penolong bagi industri besar. Bukan posisi yang menguntungkan karena akan memudarkan iklim kemandirian yang seharusnya menjadi ciri dari UMKM itu sendiri.
Permasalahan selanjutnya terkait aset faktor produksi asli yang masih ada dalam golongan rendah, dengan penguasaan teknologi yang masih minim. Hal ini menimbulkan dampak siklus di mana akan berujung pada sedikitnya akses untuk melakukan pemasaran dan ekspansi produk. Inilah yang perlu dijadikan target oleh industri seluler dalam rangka membantu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan,-bantuan pemasaran-.
Tak bisa dipungkiri bahwa terbatasnya akses teknologi dan keterlambatan dalam mengikuti arus telekomunikasi menjadi salah satu penyebab sulitnya pemasaran melalui media online. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa media pemasaran yang digunakan oleh sebagaian besar pelaku usaha UMKM hanyalah mouth to mouth, kartu nama, dan pamflet sederhana. Masih jarang pula yang menggunakan billboard, mobile billboard, backdrop, katalog, surat kabar, banner dan buklet. Program free economic reinventing yang merupakan inovasi pemasaran online bagi umkm pun masih terbatas aksesnya, di samping karena belum adanya minat yang tinggi dari pelaku UMKM, fasilitas ini hanya mengarah pada sektor yang berskala besar.
Menurut Kotler yang mencetuskan teori marketing mix yang terdiri dari product, price, place, and promotion menempatkan iklan sebagai bagian penting dalam pemasaran, termasuk di dalamnya media yang digunakan karena akan berdampak pada jumlah produk yang terjual. Peran industri seluler sebagai basis telekomunikasi yang menjadi penjembatan antara teknologi dengan kebutuhan masyarakat akan sangat diperlukan karena salah satu hal yang menjadi penghalang adanya program go online adalah kurangnya akses internet apalagi untuk UMKM yang berada di wilayah pedesaan.
Adanya kemajuan teknologi-globalisasi telah menyeret area persaingan pada lintas negara, bukan lagi sebatas regional. Didukung dengan ketatnya kompetitor dan banyaknya jumlah pelaku yang bermunculan, mengharuskan sektor UMKM untuk mencari strategi baru dalam memenangkan pasar. Keberadaan internet pada akhirnya menjadi salah satu solusi bagi para pelaku UMKM untuk mengembangkan usahanya karena luasnya jangkauan pemasaran dan mudahnya sistem yang digunakan.
Krusialitas pemasaran online juga dapat dirasakan ketika terjadi krisis ekonomi yang diakibatkan adanya subprime mortgage di Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Pada awalnya UMKM turut merasakan tamparan lewat menurunnya tingkat produktifitas, namun berkat adanya pemasaran online, sektor ini mulai bergairah kembali yang ditandai dengan meningkatnya ekspor.
Berkaca dari kasus yang terjadi di Amerika, sangat bijaksana jika UMKM dibekali dengan fasilitas telekomunikasi yang mumpuni. XL sebagai salah satu bagian dari industri seluler berusaha menyediakan layanan telekomunikasi yang nyaman dan mudah bagi pelanggan. Hal itu didukung dengan adanya 19.349 Base Transceiver Station (BTS) sampai akhir 2009 diseluruh Indonesia, tersebar melalui Sumatra termasuk Aceh, jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua dengan cakupan populasi 90%[7]. Jaringan yang ditawarkan XL pun menggunakan kombinasi antara fiber optic dan transmisi microwave sehingga dapat dinikmati akses dengan kemampuan tinggi untuk transmisi data dalam jumlah besar.
Tidak berhenti di situ, XL mulai melakukan resolusi dengan melakukan penambahan BTS 3G dan meningkatkan layanan seluler mulai dari Bandara Ngurah Rai sampai Nusa Dua, juga di Denpasar. GM Sales East II XL, Djie Yannes mengatakan bahwa  perbaikan kapasitas jaringan terutama jaringan 3G telah dilakukan  untuk mempersiapkan layanan internet yang baik. Bahkan beberapa di antaranya sudah menggunakan second carrier, yaitu dua 3G per BTS. Adanya program ini tentu akan semakin menambah kepercayaan pelanggan terhadap XL karena jaminan kecepatan yang semakin komprehensif dan terjangkau.
Resolusinya bahwa XL, melalui program modem bundling dapat menjadi penggagas adanya program pemasaran online. Modem di sini akan membantu masyarakat dalam melakukan koneksi internet 24 jam. Selain membantu dalam hal pemasaran, adanya program ini juga dapat meminimalisir cost sehingga anggaran dapat dialokasikan untuk kegiatan operasional lain yang produktif. Gambaran singkat dapat dijelaskan lewat bagan berikut ini:

Gambar : Alur Proses Bantuan Modem Bundling ke UMKM

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengklasifikasikan UMKM menjadi 2 golongan yaitu potensial dan belum potensial. UMKM yang masuk dalam golongan potensial adalah Small Dynamic Enterprises dan Fast Moving Enterprises, sedangkan yang masuk dalam kategori belum potensial Livelihood activities dan Micro Enterprice. Tujuan diadakannya pengelompokan ini karena berkaitan dengan langkah yang akan diambil selanjutnya. Untuk UMKM yang memang sudah memiliki kesiapan untuk go online, modem langsung dapat diberikan. Pemberian modem di sini adalah sebagai stimulus, setelahnya ada monitoring dan juga kerjasama dari pihak XL untuk berkomitmen membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui UMKM dengan memberikan layanan-layanan baru yang mendukung.
Untuk golongan kedua yaitu UMKM yang belum potensial, tidak serta merta diberikan bantuan modem bundling begitu saja. Sebelumnya harus ada pendampingan dan pengenalan teknologi online untuk membantu mempersiapkan kondisi sosial masyarakat. Baru setelah dirasa siap, pihak XL bisa memberikan bantuan berupa modem. Pendampingan dan juga praktek-praktek riil akan sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kacakapan.
Program ini juga tidak terlepas dari desperindag dan juga koperasi. Kedua lembaga ini mempunyai peran dan proporsi untuk membantu dalam keberlanjutan. Desperindag nantinya akan berfungsi untuk memberikan pelatihan mengenai kegiatan ekspor impor setelah UMKM go online, kemudian koperasi akan penting fungsinya dalam melakukan integrasi lokal. Semuanya akan mengerucut menuju satu goal yang diinginkan bersama yaitu online marketing sebagai tanggapan dari adanya era teknologi dan liberalisasi. Dengan adanya program ini, diharapkan seluruh lapisan masyarakat dapat menikmati adanya kemajuan teknologi dan ikut andil dalam peningkatan kesejahteraan lewat industri kreatif.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Gratis Modem Bundling dari XL. Diunduh dari http://Gratis.Modem.Bundling.Paket.Internet.dari.XL.htm pada tanggal 21 Desember 2011
Anonim. 2011. Jumlah Penduduk Indonesia Tahun 2011. Diunduh dari http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a3aa91ab&cb
Anonim. 2011. Undang-undang RI No. 36 th. 1999 tentang Telekomunikasi. Diunduh dari http://www.apjii.or.id/uu36/index.html pada tanggal 20 Desember 2011
Imamah, Nuruh. 2011. Peran Bussiness Development dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah. Diunduh dari http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/10208169176_1411-1438.pdf pada tanggal 28 Desember 2011
Indiarti, N. 2007. Entrepreneurship dan Usaha Kecil Menengah di Indonesia. Yogyakarta: Ardana Media
Karyana, Y. 2005. Teori Ringkas Ekonomi. Yogyakarta: Intersolusi Pressindo
Sugiarto, dkk.  2002. Ekonomi Mikro Sebuah Kajian Komprehensif. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
TIM LOPI. 2007. Langkah Sukses Menuju Olimpiade Ekonomi. Jakarta : LOPI