Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 November 2015

Kecelakaan Rel Kereta Kaligawe 8.40 (05-11-2015): Pengendara sepeda motor tewas

Pagi ini seperti biasa, berangkat kerja. Tiba-tiba selepas terboyo, banyak sekali polisi di jembatan layang kaligawe. Mengalihkan jalur kendaraan ke arah utara, "ada kecelakaan kereta di rel kaligawe". Spontan saya tidak kaget, tanpa melihat berita saya langsung curiga bahwa "pasti ada kecelakaan yang melibatkan penyeberang rel". Karena saya tau persis kondisi keseharian penyeberang rel di Kaligawe karena hampir setiap hari saya lewat. Sempat beberapa kali pula saya merekam aktivitas penyeberang rel yang emang sangat tidak teratur, bahkan saya bisa katakan "mengerikan". Sebelumnya saya tinggal di jogja, kota yang juga ramai dengan kereta api, saya belum pernah melihat kondisi setidak teratur itu sekalipun di rel lempuyangan. Sebuah rel di tengah kota yang tidak kalah strategis dibanding dengan kaligawe. Saya akan tampilkan hasil rekaman saya beberapa waktu lalu,

 

 

Sesampainya saya di kampus, saya langsung buka internet untuk melihat berita dan ternyata ada korban tewas. Kecelakaan tersebut melibatkan satu mobil putih. Menurut twitter @kaligawe online memberitakan bahwa ada satu korban tewas perempuan pengendara sepeda motor. Kronologi masih belum jelas mengapa korbannya pengendara motor dan bagaimana kondisi pengendara mobil suzuki putih (H 9432 UF). Untuk berita detailnya mungkin akan disiarkan nanti di televisi. Dibawah ini adalah foto kejadian kecelakaan.


Semoga video yang saya tunjukan dilihat oleh pihak-pihak yang memiliki akses kepada yang berwewenang, atau semoga dilihat oleh pihak yang berwewenang. Lokasi seperti ini harus ditertibkan dengan sebaik mungkin. Melanggar lampu merah saja di tindak tegas, kenapa pelanggar pintu kereta api bisa sebebas itu? Mari kita koreksi.



Jumat, 09 Oktober 2015

Mengecewakaanya Sistem Pembelian AQUA



Hmmm...curhat masalah aqua galon...
Setelah bertahun-tahun berlangganan air aqua galonan, beberapa bulan ini saya sungguh merasakan tidak nyaman. Di sekitar kudus, saya tidak tahun di daerah lain, kalau mau beli air aqua tampatnya dicek detail sekali oleh penjualnya. Saya sih biasa aja awalnya karena saya tidak merasa merusakkannya. Selama di jogja pun tidak pernah ada kasus demikian, di cek-cek gitu. Hingga pada akhirnya sekitar beberapa bulan yang lalu botol yang saya bawa untuk beli air aqua ditolak oleh penjual. Penjual ini melihat ada bekas tambalan di bawah aqua. Katanya nanti nggak diambil botol yang kayak gitu, gak bisa dituker yang ada isinya. Lha saya yo bingung, wong saya gak merasa nambal, selama saya pakai juga tidak ada indikasi bocor. “silahkan cari tempat lain mas, mbok ada yang mau nerima botol ini”. Okelah, tidak ada gunanya saya menerangkan macam-macam. Penjual Cuma pesen kalau beli cek dulu biar gak kaya gini (penjual tahu bukan saya yang salah). Dalam hati “mana mungkin saya cek bu...”.
Coba ke warung satunya, dicek lagi dan hasilnya lolos. Dengan perasaan yang tidak enak saya bingung untuk membawa air aqua itu. Takut penjualnya merugi karena botol itu. Tapi yasudahlah, saya berdoa semuga dilimpahkan rizki pedagang itu saja...
Atas ketidaknyamanan tersebut saya tetap menjadi lengganan setia aqua. Namun, tadi pagi nampaknya membuat saya benar-benar kecewa. Botol saya ditolak lagi dengan alasan bawahnya sudah pecah dari dalam. Lhooooh? Mana saya tau itu botol pecah di dalam? Lhawong saya pakai beres-beres saja gak bocor. Kalau adabnya membeli aqua galon harus memeriksa kondisi botol ya jelas tidak mungkin. Memeriksa botol dengan air 19 liter di dalamnya adalah hal  yang sangat merepotkan, kalo menurut saya yo imposuebel...
Lalu saya mulai berpikir dan merunut berbagai pengalaman dan kemungkinan. Apakah aqua sebagai perusahaan air minum terbesar di Indonesia memberlakukan sistem sebegitu jelek parahnya? Ini sangat jelek menurut saya dan menjatuhkan kredibilitas perusahaan.
Suatu produk jelas ada masa berlakunya, termasuk botol aqua galon. Ditambah bahan dasarnya plastik, jelas harus diremajakan secara berkala. Kasus di atas seolah-oleh pihak aqua menganggap botol tidak mungkin rusak dan meminta konsumen yang menanggung kerusakan botol! Tapi saya kok masih ragu apa ini benar-benar aturan dari pihak aqua? Pasalnya perusahaan sebesar aqua jelas memiliki tim riset handal yang mempu memprediksi daya tahan botol untuk mengatur peremajaan, pasti juga punya tim pengembang yang dapat mengatur kualitas botol, juga punya ahli keuangan yang dapat merumuskan harga untuk dapat mengcover biaya peremajaan botol. Sederhananya misal botol rata-rata bisa dipakai 30 kali isi ulang dan harga botol 30 ribu. Naikan saja harganya hingga dapat menutup biaya peremajaan. Atau jangan-jangan ini permainan oknum? Entahlah, dengan tulisan ini saya mencoba tabayun dan mengharap ada yang memberikan tanggapan.
Masalahnya, saat saya runut lebih teliti, saya pernah mendapatkan botol yang diindikasikan ditambal. Ini aneh, karena saya membeli aqua itu dengan isi air penuh. Logikanya jelas, jika aqua tersebut resmi berarti pihak aqualah yang mengisi air sehingga saya memberi tanda tanya besar pada botol yang diindikasikan ditambal tersebut. Tidak mungkin ditambal setelah ada isinya. Kemungkinan yang kedua adalah botol diisi oleh orang tidak bertanggungjawab yang terlebih dahulu menambalnya. Tapi saya pastikan waktu itu tutup segelnya resmi. Saya berani memastikan resmi karena saya pernah mendapatkan botol dengan tutup tidak resmi dan insya Alloh saya bisa membedakan.
Entahlah, yang jelas ini aneh tapi saya tidak berani untuk menyimpulkan secara lugas dan tegas. Saya berharap tulisan ini dibaca oleh pihak aqua sehingga ada tanggapan. Yang jelas saya selaku konsumen merasa sangat dirugikan.
Jika memang ini kasus yang ditimbulkan dari luar silahkan segera diatasi,
Namun jika keribetan ini memang aturan intern dari aqua, merk lain masih banyak.
Terimakasih.

Selasa, 04 Agustus 2015

BNI: Memberi Kesan, Perlahan Melarut, Hingga Membuat Hanyut



Bank, instansi yang dikenal oleh semua orang. Kebutuhan akan kenyamanan, keamanan, dan kemudahan mendorong intansi keuangan tersebut terus berkembang dengan berbagai produk guna memfasilitasi aktifitas ekonomi manusia. Dari anak kecil sampai dengan orang berusia senja kenal dengan bank. Dewasa ini bank terus menjamur hingga sudut-sudut yang paling ujung di negeri ini dengan brand masing-masing.
Terkenalnya bank ternyata tidak menjamin wawasan yang cukup untuk memutuskan menjadi nasabah. Seringkali seseorang bingung karena banyaknya bank dengan iklan produknya yang bervariasi. Pada dasarnya bank adalah instansi yang memfasilitasi, bukan membuat repot. Perbandingan sederhana adalah dengan menabung di rumah. Pada umumnya seseorang akan membandingkan dua hal tersebut untuk kemudian memutuskan menjadi nasabah atau tidak.
Berkenalan Lewat Kampus
Lingkungan universitas adalah lokasi strategis yang dipilih banyak bank untuk membuka outlet. Alasannya jelas, perputaran uang di lokasi tersebut besar karena keberadaan universitas akan berimbas pada menjamurnya tempat kos dan pedagang. Sewaktu saya kuliah, hampir semua bank membuka outlet di lingkungan universitas dan tidak ada yang sepi. Universitas memanfaatkan fasilitas pengelolaan uang oleh bank. Mulai dari pembayaran uang semester melalui bank, penyimpanan uang, dan transfer. Kondisi tersebut yang memaksa mahasiswa untuk berkenalan dengan bank, bahkan dapat dipastikan semua mahasiswa di tempat saya kuliah memiliki rekening.
Aktifitas pembiayaan kampus dikelola oleh BNI. Pada saat inilah saya dipaksa untuk kenal dengan BNI. Uniknya, semua mahasiswa diberikan rekening BNI beserta kartu ATM yang sekaligus berfungsi sebagai kartu tanda mahasiswa (KTM). Pembayaran uang semester dapat dilakukan dengan debit dan pencairan beasiswa yang saya dapatkan juga dengan proses transfer via BNI.Berlanjut saat saya memutuskan mmelanjutkan studi di pasca sarjana. BNI kembali lekat dengan aktifitas pembayaran dan pencairan beasiswa. Praktis, dengan demikian maka minimal selama kuliah saya adalah nasabah BNI.
Banyaknya bank di lingkungan kampus membuat saya ingin mencoba fasilitas yang ditawarkan oleh bank lain. Empat rekening selain BNI pernah saya miliki. Perlahan saya mencoba merasakan fasilitas dan membandingkan. Proses tersebut terjadi sekitar 6 tahun saya kuliah (sarjana dan pasca sarjana).
BNI Melarut
Sebuah bank akan dipilih ketika dapat melarut di sekitar dengan persebaran yang luas, outlet maupun mesin ATM. Keinginan nasabah adalah dapat bertransaksi dengan mudah. Indikator mudah adalah mengatasi berbagai masalah, prosesnya yang tidak rumit dan dekat.
Indikator yang pertama mengenai mengatasi masalah. Aplikasi yang ditawarkan oleh BNI sangat kompleks. Untuk mahasiswa yang paling utama adalah urusan uang semesteran. Uang semesteran dapat dibayarkan melalui teller ataupun ATM. Proses pembayarannya pun dapat dilakukan di seluruh outlet dan ATM dimanapun lokasinya. Fasilitas tersebut menyelesaikan masalah pembayaran uang semesteran yang biasanya dilaksanakan pada saat masa liburan sehingga banyak mahasiswa pulang kampung.
Transfer, aplikasi yang saat ini sangat dibutuhkan oleh seseorang. Di BNI transfer dapat dilakukan dengan mudah di semua mesin ATM atau teller.
BNI menyediakan aplikasi pembayaran yang relatif kompleks. Yang paling berkesan adalah pembayaran BPJS, Listrik, dan Pulsa. Ketiga jenis pembayaran tersebut sangat erat dengan kehidupan masyarakat. Untuk pembayaran BPJS, BNI memberikan fasilitas pembayaran melalui teller ataupun ATM. Bijaknya, BNI tidak melakukan strategi pemaksaan pada anggota BPJS untuk menjadi nasabah BNI. Pembayaran melalui teller dapat dilakukan secara cash tanpa harus memiliki rekening. Terdapat bank lain yang membuat kebijakan demikian sehingga memaksa anggota BPJS yang akan membayar premi harus menjadi nasabah. Pembayaran listrik dapat dengan mudah hanya tinggal memasukan nomer id saja. Untuk pulsa, BNI memberikan fasilitas di ATM. Keuntungan bagi nasabah adalah hanya membayar sama dengan nominal pulsa, misal pulsa 50.000 cukup membayar Rp 50.000. Jika beli di luar biasanya akan dikenakan cash, pulsa 50.000 dihargai Rp 51.000,00. Keunggulan lainnya, nasabah dapat membeli pusa melalui ATM 24 jam non stop.
Berikutnya adalah e-banking dan sms-bangking. Keduanya adalah fasilitas dimana nasabah dapat melihat kondisi tabungannya melalui sms ataupun internet. Pengalaman saat, sms-bangking dapat memberikan informasi uang masuk (transfer) secara otomatis melalui sms sehingga tidak harus mondar-mandir ke bank atau ATM untuk cek saldo. Keuntungan lain adalah kemudahan orang tua dalam mengontrol pengeluaran anak terlebih anak yang sedang merantau. Orangtua dapat dengan mudah  melihat aktifitas anak dalam mengelola ATM yang dipercayakan.
Indikator kedua adalah prosesnya tidak rumit. Semua aplikasi yang ada di ATM BNI relatif mudah karena memaparkan petunjuk yang lugas dan jelas. Bahkan ketika melakukan setoran di teller tidak perlu menggunakan slip setoran. Nasabah hanya menyerahkan buku tabungan dan uang.
Indikator terakhir adalah dekat. Outlet dan ATM BNI mudah dijumpai di seluruh penjuru Indonesia. Saat ini BNI memiliki 1.687 outlet yang tersebar di 34 provinsi dan 381 kabupaten, dan lima kantor cabang di luar negeri; yaitu di London, New York, Tokyo, Singapura, Hongkong; satu sub branch di Osaka; Limited Purpose Branch di Singapura; dan Remittance Representative yang tersebar di Malaysia, Saudi Arabia, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat.
Hanyut Sebagai Nasabah Fanatik
Mulai hanyut menjadi nasabah fanatik yang memilih dengan mantab BNI sebagai bank kepercayaan. Citra positif mengerucut dari berbagai pengalaman yang telah dilalui. Kemantaban menjadi lugas saat cara pandang berbasis kebutuhan. Saya relatif sering berpindah-pindah dari suatu lokasi. Domisili di Kudus, lahir hingga kuliah di Daerah Istimewa Yogyakarta, mertua di Banjarnegara, dan saya penyuka traveling pernah ke Klaten, Solo, Sragen, Purwodadi, Demak, Semarang, Magelang, Kendal, Temanggung, Wonosobo, Jakarta, Tangerang, Surabaya, Malang, Pacitan, Bandung, Pangandaran, Cilacap, Batam, dll. Dari kesekian banyak kota yang pernah saya kunjungi, sama sekali tidak ada memori negatif mengenai BNI. Citra yang tersirat adalah lokasi ATM dimana-mana sehingga mudah untuk bertransaksi. Mulai membandingkan dengan bank lain yang tidak semua di kota yang saya kunjungi memiliki outlet.
Masalah ATM, nampaknya BNI buka bank yang memiliki sebaran ATM terluas. Namun, pengalaman positif yang melekat pada pikiran saya adalah selama menggunakan ATM BNI belum pernah sekalipun trouble. Itu kenapa saya mantab memilih BNI dibanding dengan bank dengan ATM yang sebarannya paling luas karena pengalaman saya sering sekali trouble atau offline. Ilustrasinya, ATM BNI jarak 3 km dari rumah sedangkan ATM bank lain tersebut 1 km dan 5 km tapi trouble. Ketidaksiapan ATM dalam melayani nasabah dapat menghambat terlebih jika nasabah dalam kondisi sangat membutuhkan transaksi.

Jumat, 31 Juli 2015

Perpanjang STNK mudah, cepat dan tanpa calo

Sahabat sekalian tentu sudah akrab dengan perpanjangan STNK. Pada umumnya kita mengandalkan calo karena merasa irokrasi begitu rumit. Namun saya mencoba untuk mengurusnya secara mandiri dan hasilnya wow. Kurang lebih 30 menit semua beres dengan membayar sesuai ketentuan. Tanpa plus 20-40 ribu untuk calo. Berikut sekilas proses yang saya dokumenkan,


Minggu, 21 Desember 2014

LONGSOR DI KARANGKOBAR: MELIHAT PENANGGULANGAN BENCANA DARI ANOTHER SIDE

Lama saya pulang ke rumah istri di bantar (dusun dekat dengan pasar karangkobar, banjarnegara). Semangatnya istri saya saat perjalanan pulang, walaupun tahu akses menuju rumah sulit karena bencana tanah longsor. Bus yang biasa kami tunggangi pun tidak ada satupun yang beroperasi. Akhirnya kami dijemput mbak zuhri dengan suaminya, mas bejo bersama si kecil ardan. Kami dijemput di dekat terminal banjarnegara.
Mas bejo dan mbak zuhri cerita kalau jalan menuju rumah macet sekali. “ya, jelas karena jalan utama terkena longsor jadi pasti macet”, itulah pemikiran saya. Asiknya pulang melihat pemandangan yang sudah lama tidak kami nikmati. Bagi sodara semua yang pernah melalui jalan banjarnegara-karangkobar tentu tahu persis keindahannya.
Mulai masuk di sekitar area longsor, hal pertama yang saya alami adalah macet. Masih logis di pikiran saya karena memang beberapa kendaraan relawan banyak yang masuk sedangkan jalan yang diakses sempit. Sesampai di karangkobar, dekat dengan pasar saya mulai melihat ramainya daerah ini dimana rumah-sumah di tepi jalan dijadikan posko dan tentunya banyak sekali mobil dengan atribut tulisan besar identitas masing-masing. Kondisi ini masih belum menimbulkan keresahan dalam benak saya. Yes, this is the fact that Indonesian people have big empathy for the other, I proud it.
Sampai di rumah,uaaaah senangnya merasakan hawa dingin yang tidak saya rasakan di Jogja, apalagi di Kudus (kudus sumuk sekaliii). Malam hari kami bercengkrama di depan tv. Sesekali saya menoleh karena tergelitik dengan beberapa siaran televisi. Saya tiba-tida fokus sekali pada berita di tv yang mengulas tentang bencana banjarnegara. Inilah awal keprihatinan saya pada kondisi penanggulangan bencana tanah longsor di karangkobar.
“beberapa relawan membersihkan sampah makanan”. Presenter mengungkapkannya dengan nada lugas dan bangga. Mungkin dia ingin menunjukan etos kerja dari relawan yang peka terhadap kebersihan lingkungan.
Namun saat saya mendengar berita itu, saya malah merasa miris cenderung marah. Saya lihat sampah-sampah berserakan itu sangat tidak teratur dan seaolah memang tindakan “buang sampah sembarangan”. Pertayaan dalam benak saya, “MEREKA ITU KESINI RELAWAN ATAU APA? MEREKA BUANG SAMPAH SEMBARANGAN DAN MEREKA GOTONG ROYONG MEMBERSIHKAN SAMPAH? WHAAAT? APA HUBUNGANNYA DENGAN BENCANA INI???”
Namun perlahan saya simpan kegelisahan ini dan mungkin hampir melupakannya.
Minggu tanggal 21/12/14 saya pulang ke Jogja. Saya diantar oleh saudara dengan motor karena memang belum ada angkutan umum yang beroperasi ke banjarnegara. Dimulai dari sinilah kegelisahan saya mulai muncul lebih dari sebelumnya. Pertama kali saya melintas di pasar karangkobar saya melihat:
1.       Jalan yang sangat padat, macet sekali
2.       Banyak sekali rumah warga di tepi jalan yang disulap jadi posko dengan berbagai spanduk identitas di depan rumah.
3.       Banyak sekali mobil dengan identitas kelompok yang sangat mencolok, partai (gambar lambang ataupun ketua umum), badan zakat, ormas dan berbagai instansi
4.       Sampah bekas makanan di pinggir jalan
5.       Pemuda membantu polisi mengatur jalan
Well, sambil perjalanan saya menggerutu kenapa kok bisa semacet ini, bahkan ambulan saja tidak dapat melintas cepat. “LALU BAGAIMANA KALAU ADA YANG SAKIT DAN BUTUH MOBILITAS YANG SEGERA?”
Perlahan saya mulai memikirkan apa yang saya batin semalam saat melihat berita di televisi. Banyaknya sampah yang dibuang sembarangan. Saya mulai berpikir ini benar-benar tidak terkoordinir dengan baik. Relawan terlalu banyak sehingga jobdesknya tidak jelas. Dan tentunya jutru membuat keadaan semakin crowded sehingga tidak afektif dan efisien. Mari kita hitung-hitungan:
Bayangkan jika ada relawan yang membersihkan sampah makanan (hasil dari relawan). Jika relawan tidak membuang sampah sembarangan tentu tidak perlu ada relawan kebersihan sampah. Mudah dilogika jika relawan kebersihan dipulangkan maka akan mengurangi kepadatan karangkobar.
MASALAH KARANGKOBAR SEKARANG BUKAN HANYA BENCANA, TAPI BERTAMBAH DENGAN PADATNYA LALU LINTAS. “PERLU KITA SADARI!!!”
Di saat pulang saya melihat berbagai mobil sejenis avanza yang menamakan dirinya sebagai relawan. Lucu juga ketika kita bernalar logis. Mari kita hitung-hitungan:
Kalau mereka menggunakan avanza sejenisnya hanya akan muat mengusung maksimal 7/8 orang. Inilah yang menimbulkan kesesakan lalu lintas. BAHKAN ADA YANG MENAMAKAN DIRI RELAWAN LOGISTIC!! Saya agak merasa ada yang mengangkut logistic dengan menggunakan mobil sejenis avanza. Perlu disadari MASALAH KARANGKOBAR SEKARANG BUKAN HANYA BENCANA, TAPI BERTAMBAH DENGAN PADATNYA LALU LINTAS.
Mengatasi dua masalah tersebut nampaknya butuh manajemen penanggulangan bencana yang mantab. Jangan sampai lokasi yang terkena bencana mendapat masalah kepadatan jalan. Proses evakuasi dan penanggulangan kesehatan adalah faktor yang harus diprioritaskan. Saya sama sekali tidak menyalahkan luapan empati dari berbagai kalangan tapi tentu harus ditata dengan baik sehingga efektif dan efisien.
Semua tahu bahwa kemacetan membuat suatu suasana yang panas, dan cenderuk mematik emosi. Mari kita bersama membangkitkan lokasi bencana dengan mendinginkan suasana. Efisien, efektif dan penuh dengan nuansa sejuk.
Berandai-andai solusi, Sedikit lamunan saya:
Seharusnya memang ada filter, siapa yang boleh masuk lokasi dan siapa yang enggak. Jika memang ada sumbangan logistic janganlah diangkut dengan mobil kecil, mungkin ada fasilitas truk atau pickup yang dapat mengangkutnya dengan kapasitas maksimal. Akan sangat baik jika jauh dari lokasi ada tempat transit yang dijadikan sebagai terminal penyaluran barang, yang juga menyediakan mobil pickup atau truck.
Filter juga sebaiknya dilakukan untuk penyaluran relawan. Relawan jangan diangkut dengan mobil kapasitas kecil karena hanya muat sedikit orang. Mungkin akan sangat baik pula di lokasi transit ada mobil angkut relawan, menggunakan truck.
Dapat juga diadakan mobil khusus yang disediakan untuk wira-wiri dari tempat transit ke lokasi bencana. Upaya ini agar lokasi tidak terlalu pada oleh mobil-mobil. DENGAN DEMIKIAN MAKA KENDARAAN SEPERTI AMBULANCE, TNI, POLISI, ALAT BERAT MEMILIKI MOBILITAS YANG SEMPURNA. HINGGA SEMUA DAPAT DIEVAKUASI DENGAN BAIK. HINGGA SEMUA KORBAN DAPAT DITOLONG. Hanya orang yang berkepentingan dan memiliki peran krusial saja yang diperbolehkan masuk. SEMUA INGIN MEMBANTU TAPI KITA HARUS PUNYA SKALA PRIORITAS DEMI KEBAIKAN!!!
“TAMPAKNYA HARUS MUNCUL GAGASAN DARI PARA AHLI MENGENAI MANAJEMEN PENANGGULANGAN BENCANA ALAM”
Meraba  masalah, opini saya: Mungkin benar mungkin salah
Saya rasa masalah yang saya paparkan di atas adalah masalah yang nampak jelas, bisa dikatakan objektif. Namun masalah yang mau saya sampaikan ini nampaknya berbau subjektifitas. Mohon maaf jika ada yang tersinggung dan opini saya salah. Saya mencermati bahwa banyak sekali yang mengumbar lebel di lokasi bencana, icon golongan dipasang dengan besar-besaran. Kenapa tidak bergabung menjadi satu nama saja? “WARGA PEDULI BANJARNEGARA?” Jikapun ada tentu tidak usah mencolok sedemikian.
Saya berbincang dengan salah satu warga, dia mengeluarkan kalimat yang membuat saya kaget. “SEMUA PADA PENGEN UNJUK”. Lho ini masyarakat saja bisa menilai demikian. Memang mencolok sekali menurut saya bahwa banyak instansi yang berlomba memasang spanduk penanda identitasnya. Imbasnya adalah adanya nuansa pengotak-ngotakan ini bantuan dari siapa, ini posko siapa, posko siapa yang lebih baik, posko siapa yang lebih lengkap dan sebagainya.
Semoga perasaan saya tidak benar, hanya subjektifitas saja. SAYA TANTANG SEMUA RELAWAN UNTUK MENANGGALKAN KELOMPOKNYA DALAM MEMBANTU!!! SEMUA ATAS NAMA “MASYARAKAT PEDULI BENCANA”
Satu fenomena yang lain, ada masyarakat yang menilai itu posko relawan bertempat di rumah-rumah (bagus) sedangkan pengungsi ditempatkan di lokasi alakadarnya (kecamatan, kelurahan dan sekolah). Saya belum crosscheck lebih jauh tapi sekilah dari statement tersebut memang iya posko-posko menempati rumah warga. Ini unik juga, ada kesenjangan. Mungkin tidak perlu banyak posko, yang penting semua fasilitas tarsalurkan. JANGAN BERFOKUS PADA PROSES MENGUKIR NAMA DI SEJARAH.
Sekian tulisan saya, bila ada yang salah mohon revisi…