Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Oktober 2018

Konstruksi Bangunan Filsafat


Oleh: Janu Arlinwibowo

Filsafat, suatu kalimat yang tidak terlalu populis, terutama maknanya. Banyak orang yang hanya sekedah mengetahui dan mendeskripsikannya penuh stigma. Bahkan ada, mungkin banyak, orang yang melarang atau minimal mewanti-wanti jika ada yang ingin belajar filsafat. Hati-hati kalau tidak kuat nanti jalannya akan miring. Faktanya memang yang lebih terkenal adalah permainan logika yang membuat kadang orang kebingungan.
Namun, tidak sepenuhnya benar bahwa filsafa itu berbahaya. Ya tentu saja pisau itu berbahaya jika digunakan untuk menusuk orang tapi sangat bermanfaat untuk memasak. Yang akan saya tanyakan sekarang berapa persen pisau yang digunakan untuk menusuk? Berapa persen yang dimanfaatkan untuk memasak? Narkotika bisa menjadi mala petaka, bisa juga dijadikan sebagai obat. Makanya tidak ada yang bilang narkotika itu buruk, yang ada hanyalah penyalahgunaan narkotika. Maknanya adalah bahwa sebenarnya materi yang ada di dunia ini bersifat netral, positif dan negatif adalah suatu citra yang dilekatkan oleh manusia pada subjek tersebut. Demikian pula filsafat, jika anda salah prosedur penggunaan maka celakalah anda, tapi jika anda menggunakannya dengat tepat maka beruntunglah anda.
Banyak sekali definisi filsafat karena memang tidak ada satupun definisi yang dapat dipersalahkan karena sesungguhnya tidak ada yang salah dalam filsafat, tergantung penjelasannya. Filsafat didefinisikan sebagai ada dan yang mungkin ada, boleh, didefinisikan filsafat adalah dirimu, boleh, filsafat didefinisikan sebagai dunia, boleh. Semuanya tinggal bergantung pada penjelasannya. Cakupan filsafat pun sangat luas, bahkan sampai seseorang yang mengaku anti filsafat pun sebenarnya sedang berfilsafat.
Dalam filsafat kita diajari untuk tidak membuat kesimpulan yang prematur. Dalam hal ini yang dikatakan prematur adalah tidak melakukan proses pemikiran yang meluas, melebar, dalam, dan tinggi sehingga muncul suatu penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan pada kesimpulan. Yang selanjutnya adalah dilarang memaksakan kesimpulan yang telah kita ambil agar diimani oleh orang lain karena bisa jadi ada tak hingga sudut pandang sehingga akhirnya beda pendapat.  Contohnya: “Kenapa saya menulis?” jawabnya karena “belum tentu karena tugas” yang artinya bisa jadi karena tugas atau kemungkinan lain yang jumlahnya tak hingga.
Keterbukaan ini membuahkan toleransi dalam berpikir. Satu lagi ilustrasi yang dapat membuka wacana kita untuk tidak memaksakan orang lain untuk sama. Gus Sabrang, putra sulung dari Cak Nun, pernah bercerita pada saat 100 secara bersama-sama mengambil foto satu ekor gajar, adakah satu foto yang sama? Tidak jawabnya. Bagaimana jika ada 1.000, atau 10.000 orang? Jawabnya tetap tidak ada foto yang sama. Itulah kodrat bahwa memang seribu kepala bisa jadi menimbulkan 1000 persepsi. Dengan demikian maka tidak bijaksana ketika kita meminta dengan paksa orang lain menyetujuai ide kita.
Ada beberapa premis yang haris diperhatikan dalam berfilsafat. Pertama adalah bahwa pikiranmu ada batasnya walaupun tidak kamu ketahui batasnya itu sebenarnya ada dimana. Kedua adalah luasnya ilmu itu tidak ada batasnya. Jadi pikiranmu pasti selalu tidak pernah bisa menjangkau luasnya ilmu. Dengan demikian maka kita harus tahu batas-batas umumnya, mana yang dapat dikejar oleh pikiran mana yang tidak. Prof. Marsigit membuat hirarki dimana filsafat adalah tingkatan tertinggi kedua setelah agama. Disinilah kunci, batasnya adalah agama.
Mari kita bahas letak agama di pikiran kita. Mengapa agama menjadi batas? Apakah agama itu tidak logis sehingga tidak bisa dijangkau oleh filsafat? Jawabnya bukan demikian. Semua yang tertuang dalam firman Alloh itu logis namun kemampuan kita dalam berpikir yang terbatas dan selalu saja dibelakangnya. Contohnya, dulu tidak pernah ada orang yang mampu memahami firman Alloh bahwa orang jaman dulu tidak ada yang tahu tentang adanya relativitas waktu. Hal ini telah disampaikan dalam Al-Quran Surat Al-Ma’aarij ayat 4 dan baru bisa dibuktikan dengan teori modern. Yang perlu kita paham adalah tidak ada yang kebetulan, semua kejadian selalu dapat dilogika, cuma logika manusia selalu dibelakang firman Alloh.
Kesimpulannya adalah bahwa olah pikir kita dapat saja mengembara hingga batas-batas tertentu, namun yang perlu diingat adalah bahwa ada satu landasan yang tidak boleh ditinggalkan yaitu agama. Dengan demikian maka berfilsafat menjadi suatu kegiatan menceburkan diri ke lautan ilmu namun tidak akan membuat kita tenggelan dan mati kehabisan nafas jika kita selalu berpegang pada agama. Kita suci itu fiksi kata Rocky Gerung? Itu karena dia tidak menyadari keterbatasannya sebagai seorang manusia. Kita suci itu adalah firman yang merupakan fakta-fakta namun bisa jadi anda belum menyadari fakta tersebut.
Berdasarkan dua paragraf sebelumnya maka clear bahwa filsafat tidak semengerikan yang dibayangkan, dia sama seperti pisau yang jika dimanfaatkan sesuai prosedur maka dapat memberikan manfaat seluas-luasnya.
Refeksi Perkuliahan Filsafat Ilmu yang diampu Prof. Dr. Marsigit,M.A.
https://www.uny.ac.id/

Selasa, 25 Juli 2017

Merawat Kebhinnekaan dalam Pendidikan



Hak belajar merupakan isu yang tak pernah berhenti diperbincangkan. Pada dasarnya negara Indonesia telah menjamin hak setiap masyarakat untuk dapat belajar dengan nyaman. Dengan tegas 31 ayat 1 UUD 45 yang menyatakan setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan. Pada tahun 2009 pemerintah mulai memberi dukungan diselenggarakan sekolah inklusi melalui Permendiknas nomor 70. Pemangku kebijakan memunculkan sistem pendidikan terpadu untuk memfasilitasi siswa berkebutuhan khusus sehingga dapat bersekolah di sekolah umum. Gerakan lebih massive nampak pada pasal 4 ayat 1 bahwa seharusnya minimal dalam satu kecamatan terdapat satu sekolah inklusi yang dapat memfasilitasi siswa berkebutuhan khusus belajar.
Haruskah Inklusi?
Konsep sekolah inklusi merespon masalah kompetensi sosial difabel. Banyak ahli yang menganggap SLB memunculkan pengkotakan sehingga membentuk sekat tebal, anak berkebutuhan khusus seolah dibuatkan dunia sendiri sehingga mengakibatkan masalah yang akut saat siswa berada di luar lingkungan sekolah. Difabel menjadi tidak siap untuk bergaul dengan mayarakat umum.
Untuk menghadapi pergaulan, siswa di SLB dikenalkan dengan cara menyikapi lingkungan sosial yang didominasi oleh orang umum. Namun sayangnya masalah sosial sangat kompleks sehingga tidak cukup hanya dengan memberikan teori. Berapapun buku yang dikatamkan tidak akan mampu menjelaskan secara menyeluruh konflik sosial. Dengan demikian maka praktik adalah cara paling baik untuk belajar.
Masalah sosial sesungguhnya tidak hanya dihadapi oleh orang berkebutuhan khusus. Pertanyaanya apakah kita sebagai non difabel telah dibekali kemampuan untuk bersosialisasi dengan difabel? Tanpa pikir panjang, jawabnya “tidak”. Idealnya ada kesiapan antara kedua belah pihak, orang berkelainan siap bergaul dengan masyarakat umum dan sebaliknya.
Sekolah adalah tempat latihan bersosialisasi, disinilah seseorang diajarkan untuk mampu bersikap baik dengan orang lain yang memiliki beda pendapat, kebiasaan, sikap, dan kemampuan. Dua belas tahun bersekolah, menemui ribuan orang dengan beragam karakter, lulus dengan pengalaman berbagai konflik dan pemecahannya membekali siswa menjadi kaum sosial yang baik. Bukan perkara mudah dan instan mengajari siswa dapat bijaksana dalam bergaul. Dengan demikian pada dasarnya kemunculan sekolah inklusi bukan hanya semata-mata memfasilitasi siswa berkebutuhan khusus, tapi lebih pada kepentingan bersama untuk membentuk mesyarakat yang utuh dan harmonis.
Ubah Paradigma
Jujur harus disampaikan, sering sekali terdengar bahwa pada saat prestasi sekolah inklusi tidak baik maka siswa difabel menjadi alasan. Ramai terdengar bahwa sekolah inklusi berjuang sekuat tenaga agar difabel terfasilitasi pendidikannya dengan lebih baik. Kaum berkebutuhan khusus menjadi kambing hitam, seolah-olah demi merekalah sistem terpadu dimunculkan. Imbasnya, setiap terjadi kesulitan dalam penyelenggaraan pendidikan, kaum mayoritas selalu merasa berkorban demi kaum minoritas.
Terdapat kejanggalan pada paradigma mengorbankan dan dikorbankan. Jika dikembalikan pada dasar negara bahwa semua warga berhak mendapatkan pendidikan maka akan nampak bahwa sama sekali tidak disinggung kaum minoritas dan mayoritas. Analisis lebih mendalam saat kita mengkaji sila kelima dan falsafah bhinneka tunggal ika, fokusnya hanya pada persatuan tanpa memperdebatkan jumlah anggota setiap kroni. Singkatnya mampu bersosialisasi dengan semua warga adalah kebutuhan bersama, orang non difabel butuh kompetensi untuk bergaul dengan difabel, begitu pula sebaliknya agar keseimbangan sosial di dalam negeri terjaga dengan baik.
Gagap Istilah
Hingga saat ini masih sering diperdebatkan relevansi sistem sekolah inklusi. Mulai dari wali muri, guru, hingga pemangku kebijakan masih mempertanyakan apakah sekolah terpadu merupakan solusi dalam mengembangkan potensi siswa difabel dan non difabel. Keraguan muncul karena sistem tersebut dikira merupakan hal baru di negara kita. Padahal mari kita telaan lebih tajam konsep bhinneka tunggal ika, berbeda-beda tapi tetap satu. Lebih detailnya adalah banyak perbedaan tapi tetap dapat rukun (bersosialisasi) dalam kehidupan (juga pendidikan). 
Kata inklusi dianggap baru karena kata serapan, jika dibranding menjadi pendidikan berbhinneka tunggal ika mungkin mayarakat dapat menerima dengan lebih mudah. Tidak ada yang dikorbankan, berkembang bersama adalah kebutuhan bersama.
 


 Dimuat dalam Kedaulatan Rakyat (Jumat, 21 Juli 2017). [klik]