Social Icons

Pages

Selasa, 25 Juli 2017

Merawat Kebhinnekaan dalam Pendidikan



Hak belajar merupakan isu yang tak pernah berhenti diperbincangkan. Pada dasarnya negara Indonesia telah menjamin hak setiap masyarakat untuk dapat belajar dengan nyaman. Dengan tegas 31 ayat 1 UUD 45 yang menyatakan setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan. Pada tahun 2009 pemerintah mulai memberi dukungan diselenggarakan sekolah inklusi melalui Permendiknas nomor 70. Pemangku kebijakan memunculkan sistem pendidikan terpadu untuk memfasilitasi siswa berkebutuhan khusus sehingga dapat bersekolah di sekolah umum. Gerakan lebih massive nampak pada pasal 4 ayat 1 bahwa seharusnya minimal dalam satu kecamatan terdapat satu sekolah inklusi yang dapat memfasilitasi siswa berkebutuhan khusus belajar.
Haruskah Inklusi?
Konsep sekolah inklusi merespon masalah kompetensi sosial difabel. Banyak ahli yang menganggap SLB memunculkan pengkotakan sehingga membentuk sekat tebal, anak berkebutuhan khusus seolah dibuatkan dunia sendiri sehingga mengakibatkan masalah yang akut saat siswa berada di luar lingkungan sekolah. Difabel menjadi tidak siap untuk bergaul dengan mayarakat umum.
Untuk menghadapi pergaulan, siswa di SLB dikenalkan dengan cara menyikapi lingkungan sosial yang didominasi oleh orang umum. Namun sayangnya masalah sosial sangat kompleks sehingga tidak cukup hanya dengan memberikan teori. Berapapun buku yang dikatamkan tidak akan mampu menjelaskan secara menyeluruh konflik sosial. Dengan demikian maka praktik adalah cara paling baik untuk belajar.
Masalah sosial sesungguhnya tidak hanya dihadapi oleh orang berkebutuhan khusus. Pertanyaanya apakah kita sebagai non difabel telah dibekali kemampuan untuk bersosialisasi dengan difabel? Tanpa pikir panjang, jawabnya “tidak”. Idealnya ada kesiapan antara kedua belah pihak, orang berkelainan siap bergaul dengan masyarakat umum dan sebaliknya.
Sekolah adalah tempat latihan bersosialisasi, disinilah seseorang diajarkan untuk mampu bersikap baik dengan orang lain yang memiliki beda pendapat, kebiasaan, sikap, dan kemampuan. Dua belas tahun bersekolah, menemui ribuan orang dengan beragam karakter, lulus dengan pengalaman berbagai konflik dan pemecahannya membekali siswa menjadi kaum sosial yang baik. Bukan perkara mudah dan instan mengajari siswa dapat bijaksana dalam bergaul. Dengan demikian pada dasarnya kemunculan sekolah inklusi bukan hanya semata-mata memfasilitasi siswa berkebutuhan khusus, tapi lebih pada kepentingan bersama untuk membentuk mesyarakat yang utuh dan harmonis.
Ubah Paradigma
Jujur harus disampaikan, sering sekali terdengar bahwa pada saat prestasi sekolah inklusi tidak baik maka siswa difabel menjadi alasan. Ramai terdengar bahwa sekolah inklusi berjuang sekuat tenaga agar difabel terfasilitasi pendidikannya dengan lebih baik. Kaum berkebutuhan khusus menjadi kambing hitam, seolah-olah demi merekalah sistem terpadu dimunculkan. Imbasnya, setiap terjadi kesulitan dalam penyelenggaraan pendidikan, kaum mayoritas selalu merasa berkorban demi kaum minoritas.
Terdapat kejanggalan pada paradigma mengorbankan dan dikorbankan. Jika dikembalikan pada dasar negara bahwa semua warga berhak mendapatkan pendidikan maka akan nampak bahwa sama sekali tidak disinggung kaum minoritas dan mayoritas. Analisis lebih mendalam saat kita mengkaji sila kelima dan falsafah bhinneka tunggal ika, fokusnya hanya pada persatuan tanpa memperdebatkan jumlah anggota setiap kroni. Singkatnya mampu bersosialisasi dengan semua warga adalah kebutuhan bersama, orang non difabel butuh kompetensi untuk bergaul dengan difabel, begitu pula sebaliknya agar keseimbangan sosial di dalam negeri terjaga dengan baik.
Gagap Istilah
Hingga saat ini masih sering diperdebatkan relevansi sistem sekolah inklusi. Mulai dari wali muri, guru, hingga pemangku kebijakan masih mempertanyakan apakah sekolah terpadu merupakan solusi dalam mengembangkan potensi siswa difabel dan non difabel. Keraguan muncul karena sistem tersebut dikira merupakan hal baru di negara kita. Padahal mari kita telaan lebih tajam konsep bhinneka tunggal ika, berbeda-beda tapi tetap satu. Lebih detailnya adalah banyak perbedaan tapi tetap dapat rukun (bersosialisasi) dalam kehidupan (juga pendidikan). 
Kata inklusi dianggap baru karena kata serapan, jika dibranding menjadi pendidikan berbhinneka tunggal ika mungkin mayarakat dapat menerima dengan lebih mudah. Tidak ada yang dikorbankan, berkembang bersama adalah kebutuhan bersama.
 


 Dimuat dalam Kedaulatan Rakyat (Jumat, 21 Juli 2017). [klik]
 






Jumat, 07 Juli 2017

Why are the Mathematics National Examination Items Difficult and What Is Teachers’ Strategy to Overcome It?



Heri Retnawati
Dr., corresponding author, Yogyakarta State University, Indonesia, heri_retnawati@uny.ac.id
Badrun Kartowagiran
Prof., Yogyakarta State University, Indonesia, kartowagiran@uny.ac.id
Janu Arlinwibowo
M.Pd., Yogyakarta State University, Indonesia, januarlinwibowo@windowslive.com
Eny Sulistyaningsih
M.Pd, Yogyakarta State University, Indonesia, enylistya@gmail.com

The quality of national examination items plays an enormous role in identifying students’ competencies mastery and their difficulties. This study aims to  identify the difficult items in the Junior High School Mathematics National Examination, to find the factors that cause students’  difficulty  and to reveal the strategies that the teachers and the students might implement in order to overcome  them. The study is phenomenological research with the mixed methods. The data were collected using documentation  of  students’  responses  and  focus  group  discussion  (FGD)  of teachers. The data analysis was conducted using Milles & Hubberman steps. The results of the study showed that there were 4 difficult items of the 40 test  items for the  students.  The  students’  difficulties  were  the  lack  of  concept  understanding, difficulties in calculating, difficulties in selecting information, being deceived by the distractors, being unaccustomed to completing complex and non-integers test items, and completing contextual test items that have been presented in the form of figures or narrative texts.

Keywords:  difficult  items,  influencing  factors,  teachers’  strategy,  examination,
mathematics

This article was published in International Journal of Instruction, Vol. 10, No.3. If You wanna get the pdf file, you can click this link [download]
   
Turkish Abstract
Ulusal  Matematik  Sınav  Soruları  Neden  Zor  ve  Öğretmenlerin  BununÜstesinden  Gelmek
İçin Stratejileri Neler?
Ulusal  sınav  sorularının  kalitesi,  öğrencilerin  yetkinliklerinin  ve  zorlandıkları  konuların belirlenmesinde büyük rol oynamaktadır. Bu çalışma, Ulusal Ortaokul Matematik Sınavının zor öğelerini belirlemeyi, öğrencilerin zorlanmalarına neden olan faktörleri bulmayı ve öğretmenlerin ve öğrencilerin uygulayabilecekleri stratejileri ortaya çıkarmayı amaçlamaktadır. Çalışma karma yöntemle yapılmış fenomenolojik bir araştırmadır. Veriler, öğrenci yanıtlarının dokümantasyonu ve öğretmenlerin odak grup görüşmesi (FGD) kullanılarak toplanmıştır. Verilerin analizi, Milles &  Hubberman  adımları  kullanılarak  gerçekleştirilmiştir.  Çalışmanın  sonuçları  sınavın  40  test öğesinden 4'ünün öğrenciler için zor olduğunu göstermiştir.
Anahtar Kelimeler: zor öğeler, etkileyen faktörler, öğretmenlerin stratejileri, sınav, matematik

French Abstract
Pourquoi  sont  les  Mathématiques  Articles  d'Examen  nationaux  Difficiles  et  Comment  la
Stratégie de Professeurs doit Le surmonter?
La qualité d'articles d'examen nationaux joue un énorme rôle dans l'identification de la maîtrise de compétences des étudiants et leurs difficultés. Cette étude a pour but d'identifier les articles difficiles dans les Mathématiques de Collège l'Examen national, trouver les facteurs qui causent la difficulté des étudiants et révéler les stratégies que les professeurs et les étudiants pourraient mettre  en  œuvre  pour  les  surmonter.  L'étude  est  la  recherche  phénoménologique  avec  les méthodes  mixtes(mélangées).  Les  données  ont  été  rassemblées  utilisant  la  documentation  des réponses des étudiants et la discussion de groupe de discussion (FGD) de professeurs. L'analyse de données a été conduite utilisant des Pas(Étapes) de Hubberman et des Moulins(Usines). Les résultats  de  l'étude ont  montré  qu'il  y  avait  4  articles  difficiles  des  40  articles  de  test  pour  les étudiants.
Mots  Clés:  articles  difficiles,  influençant  facteurs,  la  stratégie  de  professeurs,  examen, mathématiques
  
German Abstract
Warum  sind  die  Mathematik-Nationalen  Prüfungsgegenstände  schwierig  und  was  ist  die Strategie der Lehrer zu überwinden?
Die Qualität der nationalen Prüfungsgegenstände spielt eine enorme Rolle bei der Ermittlung der Kompetenzen  der  Studierenden  und  ihrer  Schwierigkeiten.  Diese  Studie  zielt  darauf  ab,  die schwierigen  Punkte  in  der  Junior  High  School  Mathematics  National  Examination  zu identifizieren, um die Faktoren zu finden, die die Schwierigkeiten der Schüle r verursachen und die  Strategien  offenbaren,  die  die  Lehrer  und  die  Schüler  umsetzen  könnten,  um  sie  zu überwinden.  Die  Studie  ist  phänomenologische  Forschung  mit  den  gemischten  Methoden.  Die Daten  wurden  unter  Verwendung  der  Dokumentation  der  Schülerreaktionen  und  der Fokusgruppen-Diskussion (FGD) der Lehrer gesammelt. Die Datenanalyse wurde mit Milles & Hubberman-Schritten  durchgeführt.  Die  Ergebnisse  der  Studie  zeigten,  dass  es  4  schwierige Gegenstände der 40 Testartikel für die Schüler gab.
Schlüsselwörter:  schwierige  gegenstände,  einflussfaktoren,  lehrerstrategie,  untersuchung, mathematik