Seluruh
dunia telah menyerahkan pengembangan potensi bibit-bibitnya ke dalam suatu
wadah pendidikan yang biasa disebut sekolah. Indonesia sangat menyadari
pentingnya bersekolah agar semua pemudahnya dapat memaksimalkan potensinya dan
memiliki bekal untuk bersaing di masa mendatang. Saat ini bangsa Indonesia
telah memberikan standar bagi masyarakat untuk belajar minimal 9 tahun (hingga
SMP) yang sering disebut sebagai wajib belajar 9 tahun. Walaupun pada faktanya,
banyak orang yang menganggap saat ini pendidikan SMA tidak cukup. Seseorang
harus menempuh hingga jenjang strata 1 untuk dapat bersaing.
Untuk
menjamin tidak ada lagi dengungan tidak bersekolah karena mahal maka saat ini pendidikan
hingga jenjang SMP telah digratiskan oleh pemerintah. Upaya tersebut telah
menghapuskan diskriminasi antara si kaya dan si miskin. Lebih lanjut bahkan
pemerintah telah menyelenggarakan pendidikan inklusi sehingga anak dengan
kebutuhan khusus dapat bersekolah bersama anak-anak lain. Dengan demikian maka
diskriminasi terhadap keterbatasan siswa pun perlahan telah diatasi.
Pada saat
bersekolah seseorang berubah status dari seorang anak menjadi seorang siswa.
Anak ketika di rumah dengan kontrol dan aturan main yang dibuat oleh orangtua
sedangkan siswa ketika di sekolah dengan kontrol dan tata tertib sekolah. Pada
saat bersekolah, siswa berproses sendiri bersama teman dalam sistem yang ada di
sekolah. Orangtua didesain untuk minim intervensi dengan harapan anak tumbuh
menjadi sosok yang lebih mandiri. Siswa diajari untuk mulai berani tidak
ditunggui dari PAUD dan TK. Pada saat SD, siswa dikondisikan untuk sudah masuk
gerbang sekolah sendiri dan kluar gerbang sekolah sendiri. Sekolah adalah dunia
siswa dimana orantua tidak memiliki banyak campur tangan.
Komunikasi Orangtua dan Sekolah
Selama ini,
campur tangan orangtua hanya pada hal administrasi, sosialisasi program, dan ketika
siswa mengalami permasalahan. Pada hal administrasi dan sosialisasi, orangtua
dilibatkan dalam acara kontinu seperti penerimaan rapor ataupun rapat awal
semester. Namun, pembahasan masalah pribadi mengenai perkembangan siswa sangat
jarang dilakukan secara intensif, kecuali untuk siswa bermasalah. Anak yang
tidak mengalami masalah dianggap sebagai anak “normal” sehingga tidak perlu ada
komunikasi khusus dengan orangtua.
Situasi
tersebut berlangsung terus-menerus sehingga lazimnya jika guru atau pihak
sekolah menemui atau memanggil orangtua maka dianggap pasti ada hal spesial
yang dilakukan oleh putra/putrinya. Tidak kaget jika saat guru menemui atau
memanggil, hal yang pertama ditanyakan oleh orangtua adalah “apakah anak saya
membuat masalah?”. Bahkan tidak jarang ketika ada undangan untuk ke sekolah,
orangtua langsung marah dan menyimpulkan bahwa anaknya melakukan perilaku yang
tidak baik, padahal belum tentu.
Citra
negatif melekat pada aktifitas “komunikasi antara guru dan orangtua” pada waktu
yang bukan agenda rutin dan tidak diagendakan masal. Fakta demikian membuat
ketiadaan inisiatif orangtua untuk melakukan komunikasi dengan pihak sekolah. Dengan
demikian maka terputuslah hubungan dan komunikasi intensif antara orangtua dan
guru. Imbasnya sangat fatal yaitu sinergi yang tidak dapat terbangun dengan
baik. Padahal sinergi orangtua dan guru merupakan salah satu aspek fundamen
dalam memaksimalkan potensi siswa.
Urgensi Sinergi Orangtua dan Sekolah
Sinergi
antara pihak sekolah dan orangtua sangat penting. Handerson (Mariyana, 2009)
menyatakan bahwa jika sekolah tidak membuat dan melakukan usaha untuk
mengikutsertakan orangtua dalam proses pendidikan maka anak akan kesulitan
dalam menggabungkan dan meenyatukan pengalaman yang mereka peroleh di rumah dan
di sekolah. Kedua pengalaman terpisah oleh ruang dan waktu sehingga jika tidak
dilakukan penyatuan maka akan sangat mungkin seorang siswa tumbuh menjadi
individu yang berbeda dalam setiap kondisi. Kasus yang sering dihadapi adalah
perbedaan sikap saat di sekolah dan di rumah. Terdapat guru yang tidak
menyadari kenakalan siswa karena sikap yang ditunjukan di sekolah sangat baik
akan tetapi dirumah sebaliknya, atau orangtua tidak percaya informasi guru
bahwa anaknya berkelakuan kurang baik karena saat dirumah merupakan seorang
yang sangat santun. Kasus demikianlah yang memicu banyak “kecolongan”. Siswa
teridentifikasi memiliki perkembangan yang kurang baik saat sudah melakukan
perbuatan fatal.
Banyak
pihak yang mulai menyadari arti penting sinergi dengan orangtua. Zaman sudah
mulai bergeser dimana saat ini posisi sekolah dan orangtua sudah seharusnya
menjadi partner dalam mengembangkan potensi siswa. Kurikulum saat ini telah
menekan keseimbangan perkembangan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Dari
ketiga hal tersebut, guru hanya dapat mendominasi pada perkembangan kognitif, sedangkan
untuk sikap dan ketrampilan, proses pembelajaran sekolah hanya dapat menjangkau
ranah teoritis. Itupun hanya dari mulai pukul 7.00 hingga 14.00, selebihnya
siswa sudah hidup dalam lingkungannya masing-masing. Diluar jam sekolah sikap
dan ketrampilan diasah lebih lama. Orangtualah yang memiliki kemampuan dalam
mengendalikan lingkungan luar sekolah.
Revitalisasi Peran Orantua Sebagai Wali Murid
Intensitas
komunikasi siswa dengan pihak sekolah harus ditingkatkan. Citra bahwa orangtua
ke sekolah adalah orangtua dari siswa yang berkelakuan kurang baik harus dihilangkan.
Langkah strategis yang dapat diambil adalah revitalisasi peran wali murid. Sekolah
memiliki peran besar pada upaya tersebut yaitu dengan memberikan arahan terbuka
pada orangtua untuk menjadi sebenar-benarnya wali tanpa harus mengkhawatirkan
citra yang saat ini berkembang. Orangtua memiliki hak untuk mendapatkan
informasi perkembangan anaknya tidak hanya melalui rapor tapi juga data leboh
detail melalui komunikasi intensif dengan guru. Disamping itu orangtua juga
harus sadar bahwa semua perkembangan anaknya adalah penting untuk diketahui dan
didiskusikan. Jika peran orangtua sebagai wali menjadi lebih nyata, semakin
intensif komunikasi orantua dan guru, kondisi perkembangan anak semakin
terkontrol, dan “bincang-bincang” orangtua dengan pihak sekolah menjadi hal
biasa maka proses pendidikan anak menjadi semakin baik, potensi berkembang
maksimal, dan hal negatif ditekan minimal. Sekolah
memupuk, orangtua menyiram, dan bersama memproteksi dari hama.
Artikel ini dimuat di MuriaNewsCom, Kamis 9 Maret 2017 [klik]
Alhamdulillah, diberikan karunia
pada tanggal 9 Desember 2016 dinyatakan lulus seleksi substasi LPDP batch IV
tahun 2016. Untuk itu dengan niat baik (insya Alloh) ingin berbagi cerita dan
beberapa simpulan proses selama seleksi pada teman-teman. Harapan saya artikel
ini dapat memberikan gambaran dan Semoga teman-teman yang ingin mendaftar
beasiswa diberikan kelancaran. Aamiin
Awal mula ...
Siang hari, pada saat silaturahmi
dengan dosen saya sewaktu S1 dan S2, saya diberikan sejumlah uang. Beliau
berkata “ini janji saya mas, buat les bahasa Inggis”. Beliau memang pernah
berucap demikian tapi saya malah kelupaan hehehe. Maklum ini mahasiswa dengan
modal bahasa Inggris pas-pasan (kacau ding tepatnya). Beliau menyarankan saya
untuk meningkatkan nilai TOEFL dan lanjut doktoral lewat beasiswa LPDP. Ini
yang bikin saya bingung, dikasih uang je, abot sanggane dalam bahasa mBantul.
Akhirnya terpaksalah saya memotivasi diri untuk serius belajar bahasa Inggris.
Domisili saya di Kudus dan
ternyata susah sekali mencari tempat les bahasa Inggris disini. Ada tapi mahal
dan ribet. Coba teman-teman bayangin aja, mau prediksi skor TOEFL aja 300 ribu.
Halooo di jogja gratis nih..hehe. Akhirnya uang anggaran les saya simpan dan
menunggu momentum tepat buah les di Jogja. Menunggu momentum karena maklum
bapak-bapak sayang anak istri jadi untuk ke jogja lama ya mikir-mikir. Tepat
sebelum lebaran istri liburan panjang dan inilah saatnya mudik ke rumah ibuk di
jogja, sama anak istri, sambil les.
Agustus saya ambil TOEFL ITP dan
september hasilnya keluar, alhamdulillah bisalah untuk daftar LPDP tahap IV
yang berakhir di bulan Oktober. Saya ambil jalur Afirmasi Prestasi, lumayan
karena ada iming-iming pengayaan bahasa dan TKD. Saya mantabkan diri saya untuk
mendaftar beasiswa tersebut dan hasil dari beberapa diskusi saya memutuskan
mengambil doktoral PEP di UNY. Dari S1 kok di UNY terus apa gak bosen ya? Dari
TK kok sekolah di jogja terus apa gak bosen ya?hehehe... Nampaknya tidak.
Menyiapkan Administrasi...
Persiapan administrasi dimulai
dengan hasil TOEFL ITP di tangan. Kemudian saya mulai membuat dokumen
kependudukan yang fix. Saat itu saya masih sebagai warga Bantul, karena sudah
berdomisili di Kudus selama hampir 3 tahun maka saya lakukan mutasi
kependudukan. Sambil wira-wiri mengurus dokumen kependudukan sekalian saya
menyiapkan surat rekomendasi. Saya
memilih 3 rekomendator yang benar-benar mengenal saya dan ketiganya memiliki
latar belakang berbeda. Pertama adalah dosen yang sekaligus pembimbing skripsi
dan tesis saya sebagai akademisi, kedua adalah pimpinan Dria Manunggal sebagai
praktisi pendidikan yang merupakan guru saya dalam banyak diskusi, dan ketiga
adalah Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta yang merupakan guru dan
pembimbing saya saat SMA. Alhamdulillah semuanya berkenan memberikan
rekomendasi, namun berat juga imbalannya, ketiganya kompak melalui program doktoral
saya harus menjadi pribadi yang istimewa (tidak biasa-biasa saja).
Persiapan selanjutnya adalah
membuat esai tentang konstribusi bagi bangsa, sukses terbesar, dan proposal
desertasi. Poin-poin dalam esai tersebu semua saya mengacu pada pedoman, jadi
ayo teman-teman yang mau daftar bisa dicicil dari sekarang, ada di pedoman.
Dalam esai konstribusi terbesar aya ceritakan perjalanan hidup saya mulai dari
SMP hingga selesai S2 dan apa yang telah saya lakukan, konstribusi untuk diri
sendiri, keluarga, institusi, dan masyarakat. Saya coba share prestasi,
pengalaman riset, dan pengabdian masyarakat yang pernah saya lakukan. Tentang
esai sukses terbesar adalah saya ceritakan hal yang saya cita-citakan.
Singkatnya inti esai saya adalah kecemerlangan yang berbasis pada keseimbangan
peran dalam keluarga dan dedikasi untuk negara. Dan yang terakhir proposal
desertasi saya tonjolkan suatu permasalah krusial dan solusi logis untuk
menyelesaikan.
Surat rekomendari beres, dokumen
kependudukan beres, saya lapor ke LPDP melalui cso.lpdp@kemenkeu.go.id bahwa saya
telah berganti alamat. Akhirnya sama kirimkan scan KTP dan data saya. Sambil
menunggu saya pantengin syarat-syarat di buku panduan dan saya siapkan semua
file hasil scan nya. Beberapa dokumen yang harus dicari seperti surat sehat dan
bebas narkoba saya coba siapkan. Setelah menunggu agak lama, sekitar seminggu
dokumen telah terudate (agak lama karena mungkin mendekati batas akhir
pendaftaran jadi sibuk sekali. Akhirnya saya daftarnya kan upload semua data
dan dokumen, yang belum hanyalah surat bebas narkoba. Setalah data terunggah
saya coba baca ulang dan wooow ada yang salah, NIK saya yang seharusnya
340206xxxxxx0001 malah cuma tertulis 340206xxxxxx000, padahal tinggal sekitar
seminggu lagi batas waktu pendaftaran, pucat ini. Mencoba untuk tenang saya
sambi melengkapi syarat lain yaitu surat bebas narkoba. LPDP bilang bahwa harus
dari rumah sakit namun apa daya di Kudus cuma POLRES yang melayani penerbitan
surat bebas narkoba. Akhirnya saya ambil surat bebas narkoba dari POLRES untuk
saya unggah. Dalam hati beres, semua syarat sudah, begitu NIK update langsung submit.
Sehari sebelum hari terakhir, sudah muncul waktu hitung mundur di web
pendaftaran LPDP, belum juga NIK saya terupdate, akhirnya saya putuskan email
dan telp ke LPDP dan dari pihak LPDP menyapaikan tidak apa-apa, NIK bisa
diklarifikasi pada saat seleksi substansi jika lolos karena memang lapak tahap
IV sudah hampir tutup. Akhirnya saya submit dan saya cetak formulir
pendaftarannya, harap-harap cemas lihat NIK di formulir pendaftaran. Ternyata
lihat di akun, wah beberapa saat kemudian NIK saya telah terupdate, pucat lagi,
menyesal kenapa terburu-buru submit. Bingung, lalu coba cek dan cetak ulang
formulir ternyata NIK ikut berubah. Alhamdulillah leganya...hehe...
Apakah masalah NIK selesai?
Konyol sekali ternyata NIK masih salah. NIK yang seharusnya 340206xxxxxx0001
tertulis 360206xxxxxx0001 setelah saya cek, ini mutlak kesalah saya karena
waktu klarifikasi saya memang menulisnya 360206xxxxxx0001. Pucat pangkat tak
hingga ini, lesu dan takut tidak lolos gara-gara hal aneh ini (saya ding yang
aneh...hehe). Langsung konfirmasi ke LPDP untuk klarifikasi dan saya pastikan
kali ini benar (ribut-ribut hari akhir pendaftaran). Hanya bisa pasrah karena
tidak mungkin update data diri bisa sehari jadi, Ah sudahlah rejeki tidak
kemana.
Namun, taraaa. Ajaib juga
ternyata apa yang disampaikan LPDP bahwa NIK dapat dikonfrmasi pada saat tes
substansi (tidak mempengaruhi di akun saya) benar. Alhamdulillah lolos
administrasi untuk seleksi substansi.
Hal yang saya kagumi dari LPDP
adalah CSO sangat komunikatif, menghargai semua pertanyaan, walaupun banyak
pertanyaan saya yang gak penting...hehehe
Tips Seleksi Administrasi...
1. Isi data diri anda dengan cermat, jangan sampai ada yang salah
2. Komunikasikan langsung dengan LPDP melalui cso.lpdp@kemenkeu.go.id jika ada masalah, kesulitan, atau kebingungan
3. Buatlah esai dengan jujur (no plagiat), jadilah diri sendiri, dan tunjukan sisi unik anda
4. Untuk esai, idealis silahkah namun harus realistis pula. Ukurlah sesuatu sampai pada batas limit anda, besar namun tetap reailistis untuk dicapai
5. Download buku panduan, haram hukumnya tidak menguasai konten pada setiap halaman buku panduan (seremnya...hehehe). Panduan bisa download di http://beasiswa.lpdp.kemenkeu.go.id/
6. Ingat, surat sehat dan bebas narkoba dari RS pemerintah
7. Minta doa restu orang tua, sodara, dan keluarga
Ada sedikit hal yang akan saya
sampaikan mengenai penulisan esai. Teman-teman sekalian sebaiknya menjadi diri
sendiri. Jangan pernah menganggap diri anda tidak menarik (konteksnya adalah
melamar LPDP). Saat berbincang dengan istri, muncul kalimat kemampuan evaluasi
diri, kemampuan selfi. Kita semua pada dasarnya memiliki sisi baik, sedang, dan
buruk tinggal bagaimana kita mengemas pada sebuat tulisan agar menarik. Lugasnya
adalah tonjolkan hal-hal baik, berikan rencana peningkatan bagi hal-hal sedang,
dan buat antisipasi bagi hal-hal kurang baik. Terkadang kita perlu banyak
penjelasan agar orang lain paham pada diri kita. Jadi jangan takut
mendeskripsikan diri dengan sudut pandang yang tidak biasa.
Misal, apakah orang miskin yang
lulus cumlaude lebih hebat dari orang kaya yang lulus cumlaude? Jawabnya
tergantung cara menyampaikannya. Orang yang miskin bisa bilang bahwa dengan
segala keterbatasan finansial dia mampu meraih prestasi akademik cemerlang.
Orang yang kaya dapat bilang bahwa dengan godaan fasilitas seperti smartphone
dan uang saku berlebih dia tetap dapat meraih prestasi yang cemerlang, bahkan
dengan segala fasilitas dia tetap dapat menahan diri untuk pampil sederhana.
Bagus mana? Sama bagusnya bukan?
Banyak hal-hal yang tidak kita
sadari pada diri kita yang sebenarnya merupakan suatu nilai plus. Mungkin harus
sering selfi...hehehe
Seleksi Substansi...
Berikut video lokasi seleksi substansi LPDP Yogyakarta ...
Lokasi seleksi substansi yang
saya pilih adalah Yogyakarta, di Gedung Keuangan Negara daerah Kusumanegara.
Lumayan deg-deg an dan tidak ada bayangan sama sekali apa yang akan muncul.
Saat persiapan saya mencoba bertanya-tanya tentang kasus aktual untuk
menghadapi LGD dan Esai. Lagi rame Ahok sama Mario Teguh, lalu saya coba
menengok lebih ke belakang ada kasus Arcandra Tahar dan harga BBM, mencoba
menilik kedepan ada pemilukada serentak. Untuk seleksi wawancara saya coba
pahami visi, misi, tujuan, dan alasan saya ambil program doktoral dengan
referensi tulisan esai yang saya upload dan mengingat-ingat hal-hal masa
lampau.
Dapat jadwal menulis esai on the
spot dan LGD tanggal 16 November 2016. Saya dapat kelompok 5B dan diminta untuk
masuk ruang esai bersama kelompok 5A dan 5C. Kelompok 5B duduk di baris tengah,
kemudian diberikan lembar jawab dan kertas kecil bertuliskan dua tema. Taraaa
yang pertama adalah kasus dwikewarganeragaan Arcandra Tahar dan kasus
reklamasi. Karena saya tidak terlalu paham kasus reklamasi, tema tersebut
langsung saya cueki. Fokus langsung menuju pada tema dwikewarganegaraan
Arcandra dan Gloria yang diberikan deskripsi kasus sedikit. Aplicant diminta
untuk memposisikan diri pro dwikewarganegaraan atau tidak.
Ada berbagai teknik penulisan esai,
dan saya cara dengan alur pikir berupa tema, dan satu tema saya kembangkan
menjadi beberapa inti paragraf. Misal saya kontra terhadap dwikewarganegaraan,
yang harus saya kemukakan adalah pendahuluan berupa kasus, potensi kasus yang
akan terjadi, kesesuaian kebijakan dan cara pandang kita, dan alternatif solusi
lain. Jika satu tema menjadi minimal 2 paragraf tampaknya sudah dapat menjadi
paparan ide yang cukup detail dan mudah dipahami. Cara ini menurut saya cukup
efektif karena waktu yang disediakan sangat terbatas yaitu 30 menit dan saya
memiliki kelemahan agak lama dalam menulis tangan. Cara tersebut menurut saya
juga relatif mudah dibawa mengalir. Tema dapat tersimpan di otak dengan mudah
sehingga ada guide untuk menulis setiap paragraf.
Dengan cara tersebut saya dapat
menyelesaikan tepat waktu, dengan paparan konten sesuai dengan harapan saya.
Kebetulan juga tepat menghabiskan dua halaman kertas yang tersedia.
Kluar dari ruang esai, kami
langsung digiring masuk ke ruang LGD. Saya sama sekali tidak tahu apa itu LGD
(persiapan yang sangat minim). Pokoknya persiapan saya hanya nonton dan baca
berita gosip pemerintahan. LGD sebenarnya mudah ditebak dari namanya,
singkatnya kelompok diskusi. Pada saat itu saya diberikan kasus Brain Drain beserta
dengan data yang rujukannya jelas, kalau tidak salah ingat kompas rujukannya.
Saya langsung segera mencermati semua isi informasi.
Lalu dimulailah diskusi, sebelah
saya langsung memulai diskusi dengan cara yang unik menurut saya (ternyata dia
sudah ikut simulasi LGD, waduuuh sungguh saya sangat kurang apdet). Ah pokoknya
saya nyantai aja dan saya fokus sama cara berpikir saya. Masukan sebelum
seleksi yang saya dapatkan adalah jangan mendominasi, jangan menyalahkan, dan
jangan ngotot (singkatnya bikjaksanalah). Hal pertama yang saya munculkan
adalah mengenai teknik sampling data di artikel tersebut (harapan saya ini akan
membuat teman-teman kritis terhadap simpulan di artiket, jangan-jangan Cuma asumsi
saja) dan yang kedua saya kemukakan alasan kenapa brain drain itu ada lewat
sudut padang budaya dan karakter masyarakat Indonesia.
Diskusi berjalan dan lumayan
asyik, namun statemnt saya yang pertama sama sekali tidak dilirik, hanya yang
kedua yang membuat teman-teman agak tertarik. Okelah brarti saya di kesempatan
kedua bicara harus lebih tajam ke unsur karakter dan budaya, masalah temuan di
artikel itu benar atau salah sudah lupakan saja. Walaupun saya ngganjel,
menyimpulkan brain drain kok pakai angket dan populasinya masyarakat diatas 17
tahun, orang usia 18 tahun tahu apa tetnag kasus itu, orang usia 21 tahun tahu
apa tentang itu? Harusnya kan batasan populasinya lebih sempit lagi (emosi
ini...hahaha). Tapi ya sudahlah... Di kesempatan kedua berbicara saya coba
memberikan variasi fakta lain tentang karakter dan budaya untuk mencegah kasus
tersebut. Selesai, agak kurang puas tapi okelah, lancar.
Masuk hari berikutnya, tanggal 17
November 2016, pagi jadwal saya verifikasi data dan siang wawancara. Untuk
verifikasi saya siapkan surat bebas narkoba dario RSUD Bantul (pas daftar saya
pakai dari POLRES Kudus) karena syaratnya dari rumah sakit pemerintah, daripada
kena masalah. Alhamdulillah lancar jaya verifikasi. Nyantai aja, asalah semua
file asli dan sesuai ketentuan insya Alloh benes deh.
Selanjutnya wawancara, tahap yang
paling membuat saya deg-deg an. Saran yang saya dapatkan sebelum wawancara
adalah pelajari esai dan proposal desertasi. Oke siap saya laksanakan. Tapi
tetep deg-deg an karena tidak ada kisi-kisinya (hahaha...kaya anak SMA mau UN,
minta kisi-kisi). Masuk, dengan membawa semua berkas yang saya rasa bisa
mendukung, karena saya lewat jalur afirmasi prestasi saya bawa semua
sertifikat, saya cari foto-foto pas menang lomba dan dicetak, dan saya bawa
jurnal publikasi beserta printout media cetak yang pernah meliput saya. Dimulai
dari perkenalan, Nama, saya yatim sejak TK, sekolah di bla...bla...bla...,
sekolah dan kuliah sambil kerja, kuliah sambil nikah, bla...bla...bla Tampaknya
pewawancara lebih tertarik dengan perjalanan hidup saya. Selama wawancara hanya
berkutat pada perjalanan hidup saya. Pertanyaan tajam ditembakan ke saya,
Kenapa di UNY?
Ada beberapa alasan, satu
keluarga. Saya inginya dapat mengembangkan diri melalui studi S3 dan tetap
dapat dekat dengan anak istri, dan yang paling memungkinkan adalah di Jogja
Takut ditinggal istri ya?
Alasan utama saya bukan masalah
ketakutan, tapi lebih pada mempertahankan fungsi saya sebagai seorang suami dan
ayah
Istri dan Anak kan bisa diajak!
Sayangnya itu sangat sulit karena
istri sudah kerja menetap
Gak bosen, apa cari aman?
Lantang saya jawab, tidak ada
kebosanan, saya selalu mendapatkan ilmu baru pada setia fase kuliah.
Nanti gak tahu dunia luar?
Saya selalu terbuka dan mencoba
membuka diri, lewat berbagai kompetisi dan komunitas saya bergaul dengan teman-teman
dari univ lain.
Lalu bla...bla...bla... lanjut ke
pertanyaan lain. Masih panjang sih...
Setelah banyak hal yang
ditanyakan, pewawancara menyatakan sudah selesai. Namun saya memohon ijin untuk
menunjukan dokumen prestasi saya, saya keluarkan beberapa majalah yang pernah
meliput saya. Komennya, lho ini foto dulu pas masih kurus ya? Pas belum nikah
ya? (hehee...santai saja, kadang guyon juga kok). Walaupun banyak dokumen
andalan yang belum saya tunjukan jadi sebenarnya juga agak menyesal. Tapi
okelah, rizki tidak akan salah masuk kamar. Hehehe...
Keluar ruang dengan wajah biasa
saja karena tidak ada gambaran khusus tentang hasilnya, masih bisa
dimaksimalkan (dalam hati) tapi secara umum sudah sangat lancar (dalam otak).
Tips Seleksi Substansi...
Untuk esai hal yang bisa saya
bagi adalah...
1. Akrablah
dengan beberapa kasus setahun terakhir bisa dengan baca koran, lihat tv, atau
internet.
2. Sering
diskusi dengan masalah-masalah tersebut, kalau saya sih diskusi dengan bapak
mertua dan istri, kadang anak ngamuk lagi main-main malah ngobrol politik. Hehehe
3. Berlatihlah
mengemukakan pendapat anda lewat tulisan, biar cara berpikir dan wawasan masuk
ke longterm memory.
4. Coba
pelajari trik menulis esai, bisa seperti saya atau pakai mainmap dulu, pilih
yang paling nyaman dan latih terus.
5. Santai
saja saat masuk ruang, usaha tidak pernah berkhianat pada hasil, Insya Alloh
semua yang anda lakukan sudah maksimal
Untuk LGD hal yang bisa saya bagi
adalah...
1. Secara
substansi sama dengan esai, hal yang anda latih untuk esai insya Alloh juga
dapat untuk latihan FGD (paling penting adalah latihan menanggapi masalah).
2. Awali
FGD dengan statement murni yang ada di pikiran andasaat itu, yang anda rasa benar-benar tajam namun
kemas dengan bahasa yang baik dan mudah dimengerti. Sangat baik jika ide,
wacana atau gagasan anda dapat menarik bagi teman-teman.
3. Cermati
dengan baik diskusi yang berjalan, lihat dengan jeli bagaimana cara berpikir
teman-teman anda dan tambahkan beberapa ide yang dapat membuat diskusi lebih
menarik.
4. Santunlah,
bukan menang-menangan kok, tapi lebih pada membangun suasana diskusi yang baik.
Untuk wawancara hal yang bisa
saya bagi adalah....
1. Pastikan
persiapan anda matang dan doktrin otak anda bahwa segala persiapan sudah yang
terbaik
2. Grogi
pasti tapi usahakan santai
3. Masuk
dengan ramah, tunjukan wajah yang antusias, sopan, dan jangan bawa kepercayaan
diri lebih dari berat badan anda (guyon ini, jangan berlebihan PD nya ya).
4. Mempertahankan
argumen silahkan namun membantah usahakan jangan. Perhatikan dengan cermat
pewawancara, beliau dosen, sendainya menyarankan tentang karir dan sebagainya
jelas lebih paham, jadi hati-hati dalam mempertahankan argumen
5. Tampilkan
hal yang menarik pada diri anda, sudah saya sampaikan di atas banyaklah selfi. Tunjukan
bahwa anda itu layak jadi penerima beasiswa, anda memiliki nasionalisme, ketahanan
dan orang yang taat pada agama, dan anda memiliki motivasi tinggi untuk
mengabdikan diri pada kepentingan umum.
6. Bawa
senjata yang bisa membuat anda tenang, orang ke hutan selalu bawa golok biar
tenan, walaupun tidak terpakai. Senjata buat wawancara bukan golok lho ya,
dokumen-dokumen andalah anda
Untuk memulai seleksi substansi jangan lupa minta doa restu orang tua, sodara, dan keluarg ya...
Beasiswa adalah bersumber dari
uang rakyat, jika anda hanya ingin pintar saja urungkan niat mendaftar besasiswa,
apalagi anda hanya kepengen seperti teman anda dapat kuliah S2 atau S3,
urungkan saja niat anda. Menjadi pribadi yang lebih baik agar dapat berguna dan
berbakti pada keluarga, agama, dan negara adalah modal niat untuk mendapat
beasiswa.
Tergelitik rasanya saat mendengar salah satu anggota
DPR yang nampaknya kalimatnya bisa digeneralir, representatiflah. Beliau bilang
bahwa “Jangan salahkan DPR, DPR itu dipilih rakyat, kenapa setelah dipilih
dihujat”. Kalimat yang sekilas langsung bikin geli karena kejanggalannya namun
tidak tahu sebabnya. Biasa kadang kita menertawakan sesuatu secara intuitif
tapi butuh beberapa waktu untuk memikirkan alasan menertawakannya. Dan saya
menemukan alasan kenapa saya geli mendengar kalimat itu dengan cepat, hehehe.
Kok nyalahin rakyat menghujat DPR, mari kita lihat kenapa mereka dipilih.
Yakinkah mereka dipilih karena memang rakyat benar-benar memilih? Saya kok
sangat tidak yakin sekali banget, ehehe. Kemungkinan pertama adalah rakyat memilih
karena ketidaktahuannya. Saat di pesta ulangtahun kita dihadapkan pada beberapa
minuman, ya diminum saja tanpa mengkaji manfaat meminum minuman tersebut.
Paling banter kalau suruh milih salah satu ya lihat warnanya yang paling
menarik. Kalau dalam pemilihan DPR ya lihat yang ganteng atau rapi atau
partainya. Tidak ada kajian mendalam “anda” dipilih, atau bahkan ada
kemungkinan besar “anda” salah terpilih. Kalau dihujat salah gak? Hmmm. Karena
rakyat hanya asal milih dulu sementara, coba hasilnya gimana, jelek ya hujat
saja. Jadi pemilihan DPR itu trial and error.
Kemungkinan lain, njenengan pakai money politik gak?
Kalau iya berarti anda menebar motivasi ekstrinsik. Jelas itu akan menjadi
bumerang. Pemilih “anda” tidak memilih anda dengan tulus mempertimbangkan
kompetensi. Jadi cuma takut “dosa” aja karena udah dikasih uang aja. Setalah
itu lupa siapa yang dipilih. Yang biasanya mau disogok juga orang yang gak
sabaran, maunya menuntut hak terus, mungkin juga karakternya kurang baik, bisa
dibeli dengan uang. Jadi ya wajar kalau mereka merasa tidak diuntungkan lalu
memukul “anda”.
Hmmm...Tidak tahulah kenapa mereka beranggapan seperti
itu. Ditunjukan hasil survey kalau menduduki peringkat atas lembaga yang paling
tidak dipercaya malah marah. Lucunya...